PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KESEHATAN MENTAL DI ERA PANDEMI

 

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KESEHATAN MENTAL DI ERA PANDEMI

Baru-baru ini jagat media sosial sedang hangat-hangatnya perseteruan antara seorang aktor sekaligus Youtuber bernama Baim Wong yang viral gara-gara memperlakukan seorang kakek dengan kurang pantas. Menurut berita yang beredar, Baim tidak suka dibuntuti berkilo-kilometer jauhnya saat sedang menaiki kendaraannya bersama Kiano,anaknya.Kemudian dia membagikan uangnya ke ojol-ojol disekitar rumahnya untuk "manas-manasin" si kakek bahwa jangan seperti pengemis yang mengejar-ngejar,saat situasinya sedang tidak memungkinkan untuk berhenti.
Si Kakek yang mengaku sebagai penjual buku merasa sedih dan dipermalukan,karena ditegur dimuka umum serta dijadikan konten tayangan Youtube Baim Wong.
Masalah sepele ini menjadi besar dan berlarut-larut karena digeber dibanyak media sosial, baik Instagram yang bertebaran akun-akun gosip,Twitter,Facebook, TikTok, Youtube, dan lain-lain.

Apalagi banyak juga pihak-pihak diluar yang bersangkutan ikut memperkeruh suasana dengan komentar-komentar pedas,sindiran ,sehingga menimbulkan pro dan kontra memihak Si Kakek atau Baim Wong, salah satunya adalah Nikita Mirzani yang mewawancarai Si Kakek dalam program acaranya,dan seolah-olah menyudutkan Baim Wong.

Perseteruan Baim Wong dengan Kakek yang sempat viral dimedia sosial berakhir damai. (Source: IG Baimwong)



Memang media sosial kadang-kadang membuat kita stres. Dan parahnya, kita tidak sendirian! Para penikmat/pengguna media sosial diluar sana juga mencari hiburan ataupun informasi melalui media sosial yang sudah menjadi kebutuhan sebagai sumber informasi teraktual. Ada yang menyikapinya dengan bijak , adapula yang ikut arus menjadi provokator.

 Meskipun saya akui, saya selalu menjadi pecandu media sosial  tetapi diam-diam saya bersyukur karena media sosial sudah menjadi bagian  dari pekerjaan paruh waktu saya sebagai seorang bloger. Apakah saya pikir media sosial itu buruk? Sejauh ini saya berpikir bahwa lebih banyak baiknya daripada buruknya. Setidaknya, jika bukan karena media sosial, saya tidak akan bekerja dari rumah, membuat jadwal saya sendiri dan bekerja dengan persyaratan saya sendiri! Saya juga tidak akan dapat terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia, termasuk dengan kalian,bukan?

Apalagi jika kalian adalah pemilik bisnis/bloger/wirausahawan/awak media/content creator, maka media sosial mungkin sangat besar peranannya dalam kehidupan sehari-hari. Hingga kadang-kadang orang awam yang kurang familiar dengan pekerjaan yang berhubungan dengan media sosial  sering mengira kita "ngepet" dan "jaga lilin" tiap malam, hahaha.

Mungkin ada yang belum paham, sebenarnya apa saja sih yang termasuk dalam media sosial itu.Mari kita kupas lebih dalam.


APA SIH MEDIA SOSIAL ITU?



Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 
dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content".

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki jumlah populasi penduduk terbanyak didunia sehingga setiap perubahan maupun inovasi yang terjadi akan langsung masuk dan dirasakan oleh penduduknya termasuk dalam bidang teknologi. Bahkan dengan jumlah penduduk yang terus merangkak dari 273,5 juta jiwa (2020), maka tak salah bila banyak orang menyebut Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial untuk dunia digital. Oleh karena itu, menurut penelitian yang dilakukan, ada sekitar 88,1 juta orang yang menggunakan internet aktif di Indonesia sebagai media sosial mereka. Bisnis jasa media sosial pun semakin meraup untung apalagi Indonesia penduduknya sangat rajin mengakses internet. Jumlah itupun diperkirakan akan semakin bertambah setiap tahunnya. Fakta menarik lainnya yang bisa dilihat dari data pertumbuhan pengguna internet dan media sosial adalah penggunaan televisi kini semakin mengalami penurunan.Penelitian menyebutkan rata-rata konsumsi masyarakat menonton televisi menurun seiring dengan mereka lebih rajin untuk mengakses internet khususnya media sosial sebagai alat komunikasi maupun media melihat kegiatan teman-teman lainnya yang bergabung dengan media sosial tersebut.





Berbicara tentang peran Media sosial adalah sekumpulan manusia yang saling membagi ide, bekerja sama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berpikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan seseorang sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan media sosial berkembang pesat. Tidak terkecuali, keinginan untuk aktualisasi diri dan kebutuhan menciptakan personal branding.
Perkembangan media sosial sungguh pesat, bisa dilihat dari banyaknya jumlah anggota yang dimiliki masing-masing situs jejaring sosial.
Dari data tahun 2017 saja ,popularitas media sosial didunia sudah sangat meluas, seperti berikut:


Salah satu dampak dari keberadaan media sosial ialah masyarakat memiliki ketergantungan terhadap teknologi terkini. Tidak heran sering kita jumpai sekelompok manusia yang saling mengenal namun saat duduk berdekatan,mereka sibuk dengan dunianya sendiri sambil terpekur dihadapan gawai masing-masing.
Pada awalnya manusia adalah sebagai makhluk sosial, namun dengan adanya teknologi saat ini, nilai-nilai budaya masyarakat sudah mulai memudar. Inilah perubahan yang terjadi dari dampak media sosial dimana manusia yaitu menjadi makhluk anti-sosial. Dilingkungan masyarakat, hampir semua kalangan sudah menggunakan yang namanya media sosial. Perkembangan teknologi media sosial ini sudah menjamur dan mengakar di kehidupan sehari-hari serta telah mengubah gaya hidup bahkan pola pikir.

Masih ingat beberapa waktu yang lalu,tepatnya 4 Oktober 2021 Aplikasi Facebook,Instagram dan  Whatsapp sempat mengalami gangguan selama beberapa jam pada Senin malam. Cloudflare, sebuah perusahaan keamanan situs web mengatakan itu terjadi akibat masalah perutean lalu lintas. Masalah itu membuat situs tidak dapat digunakan jutaan penggunanya.Menurut sebuah laporan Down Detector, gangguan pada platform media sosial milik Mark Zuckerberg itu telah terjadi di berbagai negara Eropa, Asia, Amerika Latin, dan Amerika Utara. Selain itu, mereka juga sedang mengumpulkan gelombang investigasi di sekitar jejaring sosial.
Meski demikian Facebook bersama dengan layanan Instagram dan WhatsApp mulai pulih sejak Selasa (5/10) pagi.Terbukti betapa dasyatnya pengaruh sosial media dalam kehidupan sehari-hari terutama masa pandemi ini, dimana kebutuhan manusia untuk mengakses data/informasi lebih cepat semakin mendesak.

Informasi ini juga bisa kalian peroleh di portal https://www.indozone.id/ yang juga menyajikan berbagai berita,informasi serta tips lainnya.




Instagram INDOZONE.id selalu faktual dengan berita2 terkini berhastag #kamuharustau seperti kemenangan Indonesia mendapatkan Piala Thomas



Infografik portal Indozone.id yang informatif




PERKEMBANGAN MEDIA SOSIAL DI INDONESIA


Berdasarkan laporan perusahaan media asal Inggris, We Are Social yang  bekerja sama dengan Hootsuite, (keduanya merilis laporan "Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital") yang diterbitkan pada 11 Februari 2021 mengenai pola pemakaian media sosial di sejumlah negara termasuk di Indonesia.
Presentase orang Indonesia menghabiskan waktunya untuk mengakses media sosial  rata-rata tiga jam 14 menit sehari  sedangkan menonton televisi lebih sedikit waktunya, hanya sekitar 2 jam 50 menit saja.







Mengutip info terbaru dari laman Kompas.com, dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 % dari total populasi pada Januari 2021. Angka ini juga meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3% dibandingkan tahun lalu.
Nama Indonesia sendiri tercatat dalam daftar 10 besar negara yang kecanduan media sosial. Posisi Indonesia berada di peringkat sembilan dari 47 negara yang dianalisis. Sebanyak 168,5 juta orang Indonesia menggunakan perangkat mobile, seperti smartphone atau tablet untuk mengakses media sosial, dengan penetrasi 99 %.





Sedangkan waktu yang dihabiskan orang Indonesia untuk mengakses internet per hari rata-rata yaitu 8 jam 52 menit. Berdasarkan aplikasi yang paling banyak digunakan, secara berurutan posisi pertama adalah YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, lalu Twitter. Perusahaan media sosial milik Mark Zuckerberg mendominasi tiga teratas dalam daftar lima aplikasi yang paling sering digunakan oleh pengguna berbasis Android di Indonesia. Secara berurutan, kelima aplikasi itu diantaranya adalah WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, lalu Twitter.

Menurut laporan , waktu yang dihabiskan pengguna WhatsApp di Indonesia yaitu sekitar 30,8 jam per bulan, Facebook 17 jam per bulan, Instagram 17 jam per bulan, TikTok 13,8 jam per bulan, kemudian Twitter 8,1 jam per bulan. 
Dari sekian banyak layanan video streaming, YouTube masih menduduki posisi teratas dengan rata-rata waktu penggunaan 25,9 jam per bulan dengan rentang usia berada di kisaran 16 hingga 64 tahun. 
Pencapaian ini berhasil menggeser posisi aplikasi streaming populer seperti Netflix dan Viu, yang masing-masing berada di urutan keempat dan lima.

Dilansir dari Beritasatu.com berdasarkan survei yang dilakukan GWI pada triwulan ketiga 2020, YouTube masih menjadi media sosial terpopuler di Tanah Air. Angka pengguna YouTube mencapai 94% .

Pasti kalian termasuk salah satu penikmat Youtube yang telah berhasil menggeser televisi dirumah, betul tidak? :D  termasuk saya.
Aplikasi video pendek TikTok serta Telegram menunjukkan kenaikan paling pesat pada tahun 2020 lalu. Sementara media sosial dari Tiongkok seperti WeChat atau Sina Weibo semakin menurun popularitasnya di Tanah Air.
Tak heran, kemarin saat aplikasi tersebut down, banyak yang gusar, dan Mark pun dikabarkan mengalami kerugian yang cukup besar.

Survei pemakaian media sosial di Indonesia versi Beritasatu.com
Survei pemakaian media sosial di Indonesia terpopuler versi Beritasatu.com



Dari fakta diatas, terbukti media sosial sudah merupakan kebutuhan gaya hidup manusia masa kini yang sangat dibutuhkan dan  cukup menyita pikiran.
Untuk orang-orang yang berprofesi dibidang media ,seperti bloger dan influencer seperti saya, lumayan terhambat juga sih gara-gara tidak terkoneksi jaringannya walaupun hanya 6 jam saja.
Apalagi orang awam yang komunikasinya lewat whatsapp, pasti sangat terganggu.
Jadi penasaran, kira-kira mampukah kita terlepas dari terhubung dengan media sosial?

mengapa media sosial disukai?


Lantas apa sih alasannya media sosial disukai oleh sebagian besar masyarakat modern, terutama di era pendemi seperti sekarang ini?Menurut pendapat saya ,ada beberapa alasan, antara lain:

1.LEBIH MUDAH DIAKSES DIMANAPUN BERADA

Media sosial bisa diakses dimanapun dan kapanpun dalam 1 genggaman saja.

Saat ini baik tua, muda wanita, pria, anak-anak maupun orang dewasa lebih menyukai untuk melihat media sosial dan internet dibandingkan menonton televisi. Saya pun merasa bahwa acara televisi sekarang kurang mendidik dan berkualitas serta padatnya jadwal pekerjaan maupun aktivitas lainnya membuat saya lebih suka melihat kondisi dunia melalui internet. Dari media sosial, pengguna bisa langsung mengetahui berita yang terjadi di seluruh dunia, peristiwa terkini pun lebih mudah diperoleh dan cepat diupdate melalui internet atau media sosial. Bahkan hal ini lebih cepat daripada menunggu berita di televisi.
APJII  (Asosiasi Penyelenggara jasa Internet Indonesia) mengatakan bahawa 48% dari 88,1 juta orang pengguna internet itu merupakan masyarakat pengonsumsi internet harian. Itu artinya, warga Indonesia tidak bisa lepas dari gadget dan internet untuk mengakses media sosial setiap harinya.

2. BANYAK APLIKASI UNIK YANG DIKEMBANGKAN DALAM MEDIA SOSIAL

Sebagai influencer dan sesekali fotografer, yang mereview makanan, tempat makan baru ,tempat wisata, dan sebagainya, tentu saja saya butuh piranti yang mumpuni supaya penyajian gambar-gambar yang saya bagikan tampak jelas dan nyata. Dulu sih ,saya selalu menenteng kamera DSLR yang cukup berat untuk memotret. Tapi sejak adanya media sosial yang dilengkapi fitur unik dalam aplikasinya, pekerjaan saya jadi lebih ringan. Contohnya Instagram. Tidak butuh effort yang besar untuk saya mengedit sebuah foto agar tampak bagus dan menarik, karena di Instagram sudah ada filter otomatis yang membuat foto jadi lebih artistik. Dan kelebihannya, saat itu juga langsung bisa dibagikan ke follower-follower saya maupun ke publik hanya dengan memposting di feed atau story. Sangat praktis!
Ingat, jaman sekarang aktualisasi diri sudah merupakan gaya hidup masyarakat urban.

Instagram @archa_bella sebagai ajang berbagi informasi tentang aktivitasku.

3.MEDIA SOSIAL SEBAGAI SARANA MENGEMBANGKAN USAHA YANG AMPUH 

Media sosial dapat berfungsi untuk membuat banyak orang merasa terhubung dengan orang lain dan memudahkan akses informasi. Hal ini kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu media pemasaran yang efektif mengingat cakupan media sosial yang luas dan dilengkapi dengan filter sehingga dapat dipilih kepada siapa iklan kita ingin ditujukan. Sekarang pun semakin banyak orang yang menggunakan media sosial sebagai sarana promosi karena selain cakupannya luas, biayanya pun lebih murah dibandingkan dengan promosi secara konvensional. Itulah mengapa bisnis jasa media sosial semakin berkembang dengan baik dan semakin banyak orang berlomba-lomba menciptakan media sosial yang bisa menguntungkan di masa depan.
Demikian pula para penggiat UMKM yang sempat tersendat usahanya terkena imbas dari pandemi, sekarang mulai menggeliat lagi terbantu dengan "the power of social media" yang mereka optimalkan.

Sayapun juga termasuk salah satunya yang terbantu dalam mengembangkan bisnis kuliner oleh-oleh dari Semarang melalui media sosial Instagram berlabel nama @orikosnack dan @origoods. Saya cukup merasakan manfaatnya, karena dengan menyajikan video atau foto-foto produk, banyak kostumer baru yang tertarik dan memesan. Media sosial juga merupakan sarana untuk membagikan pengalaman saya sebagai seorang influencer dalam mengkampanyekan suatu produk dari sebuah brand.
Media sosial yang saya gunakan adalah Youtube,Facebook, Instagram, Tiktok dan Twitter yang sangat efektif menjaring konsumen.

Saya sebagai influencer sebuah produk brand skincare memanfaatkan media sosial

4. MEDIA SOSIAL SEBAGAI SUMBER INFORMASI TERCEPAT DI MASA PANDEMI COVID19

Informasi mengenai berbagai macam masalah ternyata banyak berputar di media sosial. Apalagi, di tengah kasus pandemi virus corona saat ini. Di Indonesia, informasi mengenai korban atau kasus virus corona juga marak beredar di media sosial dikutip dari portal Indozone.id. Masyarakat dapat dengan mudah memperoleh info terkini mengenai perkembangan pandemi Covid19 dengan membuka cuitan Twitter, portal berita, dan kanal-kanal informasi yang lain. 
Seperti bulan Juli lalu, anak saya sempat terkena Demam Berdarah,padahal tingkat ketersediaan kamar di Rumah Sakit sangat minim,bahkan pasien COVID-19 meluber dimana-mana. Dengan informasi yang tersebar di Media Sosial,  lumayan menekan kepanikan saya untuk mengantisipasi bagaimana penanganan sementara,sebelum mendapatkan kamar Rumah Sakit. Paranoid juga sih waktu itu, karena prosedur rawat inap cukup berbelit sebelum dia dapat kamar yang terpisah dari pasien Covid yang lain.

Ibarat 2 sisi mata uang, selain sumber informasi tercepat, namun belum tentu akurat. Sebagai pengguna media sosial kita patut jeli dan waspada terhadap banyak sekali info hoaks yang bertebaran.
Seperti dokter Lois Owien yang sempat heboh saat mengedukasi tentang virus Corona yang ngawur dan tidak percaya adanya virus COVID-19 sehingga membuat berang para dokter juga masyarakat awam.
Ada juga yang membagikan info bahwa dengan mengunyah cengkeh dan kayu manis dapat meningkatkan kadar oksigen bagi penyintas virus COVID-19. Ini semua kan informasi yang keliru dan tidak terbukti kesahihannya.


Pentingnya jeli dalam menyerap informasi melalui media sosial agar tidak mempercayai berita hoaks.


Maraknya penggunaan media sosial juga membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berjuang keras untuk mengurangi akses berita hoaks yang marak beredar.
Sejauh ini, Kemenkominfo mencatat ada 1827 konten hoaks mengenai virus corona. Beberapa penyebar hoaks ada yang ditindak, termasuk diminta melakukan permintaan maaf.

Bagaimana Menghindari Berita Hoaks?
  1. Cobalah untuk menelusuri sumber berita. Terkadang, berita hoaks ,terlebih yang beredar di media sosial  hanya memiliki keterangan saja tanpa menyebutkan nara sumber.
  2. Jangan tergiur judul `wah` atau provokatif. Disarankan untuk mencari berita yang sama dari sumber yang lain.
  3. Jangan langsung sharing berita yang didapat. Cek ulang untuk memastikan kebenarannya, agar tak terjebak hoaks.
6. MEDIA SOSIAL SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN DAN KOMUNIKASI JARAK JAUH

Aplikasi video conference dengan memanfaatkan media sosial. (Source :inet)

Tidak bisa disangkal, sejak merebaknya pandemi COVID-19, sistem pembelajaran siswa baik dari tingkat PAUD hingga Perguruan Tinggi menjadi kacau.
Anak saya saja yang sudah lulus SD, menjadi tidak jelas momen kelulusannya, karena tidak ada acara perpisahan sekolah maupun dengan teman-temannya seperti selayaknya kelulusan menuju jenjang yang lebih tinggi.
Hingga kini dia duduk dikelas 8, belum pernah  sekalipun bertatap muka secara langsung dengan teman barunya (karena berbeda sekolah dengan yang lama). Begitupun dengan guru-gurunya ,semuanya dilakukan secara virtual melalui aplikasi Zoom atau Google Meet.
Tugas-tugasnya pun dikirimkan via Whatsapp karena keterbatasan situasi dan kondisi.
Memang tidak bisa dipungkiri ada penurunan kualitas pastinya, karena tanggungjawab tugas dan pengerjaan tergantung dari kesungguhan dan kejujuran masing-masing individu.
Kejenuhan sudah pasti melanda ,karena interaksi fisik dengan teman-temannya tertunda hampir 2 tahun lebih.
Dengan adanya media sosial inilah, pendidikan jarak jauh diupayakan semaksimal mungkin. Harapan kita sebagai orangtua tentunya media sosial benar-benar digunakan sebagai pencari informasi yang berkaitan dengan pendidikan disekolah, alih-alih untuk bermain video game atau melihat Youtube berkepanjangan sehingga lupa mengerjakan tugas dan bergerak.

Hal ini berlaku pula untuk para peserta rapat,seminar, ataupun workshop yang sekarang sedang mengalami kendala tatap muka, ternyata media sosial cukup efektif untuk mendekatkan yang jauh, dan tetap bisa berbagi ilmu dan informasi via laptop atau gawai masing-masing.Menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan yang tercinta, keluarga maupun kolega cukup dengan mengandalkan media sosial yang fitur-fiturnya sudah semakin canggih dan jernih.

7. MEDIA SOSIAL MENJADI SOLUSI WISATA VIRTUAL

Pandemi yang belum tentu kapan berakhir ini memang membuat stres dan kehilangan banyak orang.
Lebih dari 5 orang keluarga terdekat termasuk bapak mertua saya juga telah dipanggil Tuhan.
Ada upacara keagamaan tertentu yang harus dilakukan saat terakhir dimakamkan dan setelahnya,terpaksa tidak bisa saya ikuti karena  lockdown, ataupun keterbatasan waktu dan jauhnya jarak.
Media sosial seperti Zoom sangat membantu untuk saling memberi dukungan dikala berduka dengan adanya Live report saat pemakaman, perayaan misa, atau tahlilan, sehingga satu sama lain merasa dekat.
Karena pandemi pula, sudah lama sekali saya dan keluarga menunda berwisata. Untung sekarang banyak sekali vloger-vloger yang membagikan kisah perjalanannya lewat akun media sosial yang mereka punya, seperti Tiktok, Youtube, Reels Instagram , Facebook dan sebagainya.

Apalagi jenis wisata ini sangat didorong oleh Kemenparekraf/Baparekraf. Dilihat dari kegiatan-kegiatan yang digelar Kemenparekraf/Baparekraf bersama Traval.co dan Caventer untuk melakukan wisata virtual secara gratis. Mereka sudah melakukan wisata virtual tiga kali selama pandemi ini. Terakhir dilakukan pada 30 Januari 2021 sampai 28 Februari 2021, untuk memperkenalkan 10 Desa Wisata yang unik dan indah berkaitan dengan budaya, geografis, dan aktivitas yang dilakukan masyarakat setempat.


Situs-situs digital yang menawarkan wisata virtual semakin banyak bermunculan dengan berbagai fasilitas yang diberikan. Seperti fasilitas foto dan video 360 derajat yang dapat dinikmati dengan kacamata virtual reality (VR). Hal ini menciptakan rasa seolah sedang berada di lokasi tersebut. Sebab memang wisata ini dibuat sedemikian rupa agar terlihat seperti aslinya. Selain foto dan video 360 derajat, pemanfaatan Google Maps dan Google Street View juga digunakan untuk menambah suasana berliburnya. Tak lupa, dalam wisata virtual ini terdapat pemandu wisata yang akan menjelaskan lokasi wisata yang dikunjungi.Menariknya, virtual tour di tengah pandemi COVID-19 menjadi tren baru berlibur sekaligus sarana hiburan. Berdasarkan data yang dikeluarkan perusahaan pionir penyelenggara tur virtual, Autorin, menyebutkan bahwa peminat wisata virtual terus meningkat. Bahkan sejak Juli hingga September 2020 sudah lebih dari 900 wisatawan virtual menjelajahi destinasi wisata di Indonesia.



Treasure Bay Lagoon di Bintan, dapat dinikmati dalam virtual tour pada situs www.indonesia.travel

Jadi kita-kita yang belum bisa kemana-mana ini agak sedikit terobati melihat kelucuan-kelucuan , dan pemandangan yang dibagikan walaupun secara virtual.
Memang pandemi ini harus tetap menjaga kewarasan supaya tetap bisa sehat melanjutkan hidup. Usir kejenuhan dan mati gaya melalui teknologi seperti memanfaatkan media sosial . Ga ada alasan dong, bosan dirumah. Betul?

8.MEDIA SOSIAL MENJADI SARANA MENCARI KERJA




Jika dulu ada pepatah yang mengatakan "Mulutmu Harimau-mu", mungkin saat ini ungkapan yang tepat adalah "Jarimu Harimau-mu". Jejak digital itu tidak bisa dihindari, apalagi jika kalian aktif bermedia sosial.Sebelum melamar pekerjaan, coba kalian ingat-ingat kembali apakah kalian pernah memposting sesuatu yang isi kontennya bermuatan negatif? Seperti kata-kata kasar, kebencian atau kritik yang mengandung SARA, atau gambar-gambar yang tidak layak?
Jika iya, cobalah kalian mulai membersihkan postingan semacam itu. Alasannya adalah perusahaan akan mengecek latar belakang termasuk media sosial kalian. Ingat akun media sosial adalah cerminan dari kepribadian kita. Jika kamu terlalu meluap-luap dan emosi mengomentari sesuatu, perusahaan akan berpikir panjang atau bahkan langsung menolakmu.

Manfaat media sosial sangatlah banyak bila kita bijak dalam menggunakannya. Kita bisa memanfaatkan media sosial profesional untuk mendapatkan atau melamar pekerjaan. Banyak perusahaan yang mencari kandidat melalui platform profesional. Cobalah buat akun yang terlihat profesional, posting hal-hal yang berbobot sesuai dengan keahlianmu agar  dapat menarik perhatian pencari kandidat.
Saya juga mendaftarkan diri dalam jejaring media sosial pencari kerja seperti LinkedIn, JobStreet,Freelancer, LINE Jobs, dsb.
Jadi jika ada lowongan pekerjaan yang dirasa sesuai, segera mendapatkan informasi yang diperlukan.

Maka manfaatkan media sosial  untuk berbagi konten agar semua orang mengetahui bakat kalian. Dengan menunjukan keahlian di media sosial akan meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan karena para pencari kandidat atau bakat melihat potensimu yang dapat dimanfaatkan untuk perusahaan.

Data statistika Facebook dari tahun 2018-2020 mengenai postingan negatif.

Menurut data statistik di Facebook, media sosial tersebut menghapus konten-konten yang bermuatan ujaran kebencian maupun kalimat sensitif yang disebarkan anggotanya.Jadi pastikan untuk menyaring konten yang akan kalian bagikan ke publik supaya tidak terekam oleh perusahaan yang mungkin potensial untuk masa depan kalian.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bersenang-senang di media sosial dan menunjukkan sisi manusiawimu namun ingat kita juga perlu menyadari batasan-batasannya. Ketika  ingin memposting sesuatu, pikirkan bagaimana kita ingin dianggap oleh audience. Maka bijaklah dalam bermain media sosial agar bisa dimanfaatkan untuk melamar pekerjaan.






Perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etika dan norma yang ada. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dengan berbagai kultur suku, ras dan agama yang beraneka ragam memiliki banyak sekali potensi perubahan sosial. Dari berbagai kalangan dan usia hampir semua masyarakat Indonesia memiliki dan menggunakan media sosial sebagai salah satu sarana guna memperoleh dan menyampaikan informasi ke publik.
Namun terlalu fokus ke media sosial hingga abai terhadap dunia nyata juga dapat mempengaruhi kesehatan mental pemakainya.
Ingat, tanggal 10 Oktober lalu diperingati sebagai HARI KESEHATAN MENTAL SEDUNIA.

"Kesehatan mental mencakup kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial kita. Itu mempengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Ini juga membantu menentukan bagaimana kita menangani stres, berhubungan dengan orang lain, dan membuat pilihan yang sehat.  Kesehatan mental penting pada setiap tahap kehidupan, dari masa kanak-kanak dan remaja hingga dewasa."
Apapun yang berlebihan hingga menyebabkan kecanduan terlebih dimasa pandemi sekarang ini juga perlu mendapatkan perhatian.


Memeriksa ponsel setiap saat untuk mengecek media sosial


Mari  kita mulai dengan mengingat-ingat jadwal harian kita dari bangun tidur.
Alarm pagi berdering dan kita bangun dengan mata masih terpicing. Kemudian meraih ponsel  dari bawah bantal dan menekan tombol snooze. Beberapa menit kemudian, ketika alarm berbunyi lagi, kita mengangkat telepon. Kali ini kita memutuskan untuk memeriksa ponsel , mulai dengan Whatsapp, dilanjutkan dengan Instagram dan akhiri dengan Facebook. Kemudian membawa ponsel ke kamar kecil karena media sosial berfungsi sebagai cara terbaik untuk menghabiskan waktu di kamar mandi. Setelah itu sarapan pun masih berhadapan dengan ponsel. Jangan bilang saat menyetir juga masih melihat ponsel ya!

Bahkan di tempat kerjapun, kita sesekali membuka aplikasi media sosial yang terkadang membutuhkan perhatian ekstra. Setiap 30 menit atau lebih, kita membuka kunci ponsel dan mencari tahu apa yang sedang dilakukan teman-teman.

"Oh, dia pergi berlibur. "Oh wow, si ganteng ini ternyata berusaha keras untuk mendapatkan body goal!  "Wah, ada resto baru nih yang diulas oleh media jajan dan jalan-jalan"."Wah, si artis julid ini bikin ulah lagi dengan sesama artis"

Jika kalian melakukan hal yang sama secara teratur, kalian memiliki kecanduan media sosial.
Semua aplikasi media sosial memang dirancang untuk menarik perhatian kita berulang kali. Dalam istilah teknis, situs web ini memiliki "link"atau pengait yang mengarah pada perasaan bahagia.

Misalnya, Instagram membuat pengait dengan menunjukkan siapa yang telah memeriksa cerita yang kita posting.Kemudian mengaitkan ke teman-teman yang memeriksa status kita sehingga memaksa kita untuk kembali menengok aplikasi.
Akibatnya, waktu kita tersita untuk memperhatikan aplikasi. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk aplikasi, semakin banyak uang yang dihasilkan.

Memeriksa media sosial untuk mengetahui siapa yang menyukai postingan kita atau yang mengomentari gambar  juga melepaskan dopamin yaitu hormon bahagia. Jadi jangan terlalu banyak mengutuk diri sendiri.
Lalu apa hubungannya dengan kesehatan mental jika terlalu banyak memeriksa  media sosial?




1.MEMBANDINGKAN KEHIDUPAN KITA VS TEMAN KITA

Menikmati fine dining Oxtongue Caesar Salad di restoran mewah (Dok.Pri)

Pasti sebagian dari kita pengguna media sosial sering membagikan foto saat sedang berada di restoran mewah, kemudian bercerita bagaimana pelayanannya yang eksklusif,harga yang mahal untuk menebus sepiring steak wagyu A5. Atau berlibur ke Puncak, menikmati suasana bersama pasangan.
Tetapi ketika kita melihat postingan di media sosial di mana teman sedang menikmati bir atau berenang di perairan Maldives yang jernih, tiba-tiba kita merasa sedih dan baper.Gegara pandemi jadi tidak bisa kemana-mana. Padahal tanpa kita sadari  semua orang yang memamerkan kehidupan mewah memiliki sisi membosankan mereka sendiri seperti kita juga.

Kita membuat perbandingan dengan hal-hal terbaik di media sosial VS bagian paling membosankan dari kehidupan sehari-hari kita, yang sebenarnya tidak adil.
Jika kita meminimalkan penggunaan media sosial,kita membebaskan diri dari tekanan perbandingan yang tidak perlu.

2.KEBUTUHAN UNTUK MEMPERTAHANKAN CITRA

Makan direstoran eksklusif demi konten dan pencitraan. (Dok.Pri)

Tahukah kalian bagaimana media sosial memengaruhi harga diri? Karena status sosial yang terkait dengan gambar dan postingan, kita merasa perlu untuk mempertahankan citra yang baik istilah sekarang sih jaim alias jaga image. Ketika  harus pergi keluar untuk makan malam, otomatis kita ingin berdandan dengan baik tidak hanya untuk terlihat baik dalam kehidupan nyata tetapi juga tampil cantik dalam gambar dan cerita media sosial pribadi.

 Banyak orang bahkan merasa perlu membeli ponsel yang bagus untuk menangkap gambar berkualitas tinggi. Beberapa orang pergi ke tempat yang mahal hanya untuk memamerkan status mereka ke seluruh dunia. Ego kita serasa digedor-gedor untuk bangkit saat melihat teman kita memamerkan sesuatu yang lebih baik,agar jangan kalah atau setidaknya menyamai.

3.KECANDUAN REAKSI SEMU YANG MENDATANGKAN KEPUASAN INSTAN




Tentu saja kita suka jika mendapatkan ratusan atau ribuan "like" atau "comment" di media sosial. Ada kepuasan saat   banyak orang menunggu untuk melihat postingan kita berikutnya. Namun sayangnya, hal yang sama tidak terulang di kehidupan nyata. Kita sudah mengenakan pakaian terbaik di lemari dan berdandan rapi serta melakukan aktivitas paling menarik di dunia, tetapi nyatanya tidak mendapatkan perhatian yang sama seperti di dunia maya.

Seiring waktu, pesona kita memudar didunia nyata, tidak sama dengan reaksi yang berasal dari Instagram, Facebook, dan Whatsapp . Ini lambat laun memberi "rasa penting" yang salah . Sebagai manusia, kita menginginkan apa yang tidak bisa kita dapatkan. Akibatnya, kita kembali ke media sosial untuk mendapatkan lebih banyak kepuasan. Lambat laun ini berubah menjadi seperti lingkaran setan tak berujung yang tidak bisa kita lepaskan.

4.KEHIDUPAN NYATA VS KEHIDUPAN VIRTUAL




Saya seringkali geli membaca komen-komen negatif diakun media sosial saat selebgram X berbuat kesalahan, atau marah-marah kemudian dijadikan konten, atau berbuat mulia sehingga mendatangkan sanjung puji dari para netizen.

Atau melihat pria yang terlihat sangat keren dan smart di Facebook tetapi hampir tidak bisa berbicara di kehidupan nyata? 

 Kadang-kadang malah jadi memanas karena pertarungan komen yang terbagi 2 kubu pro atau kontra terlebih jika hal itu berkaitan dengan olahraga, politik, feminisme, agama, dan yang lainnya. 

Media sosial terkadang bisa membuat perilaku-perilaku negatif, seperti menggunakan obat-obatan, alkohol, dan perilaku sembrono, terlihat seolah keren dan menarik. Risiko ini lebih tinggi pada anak-anak muda, karena bisa berdampak pada prefrontal korteks, yaitu bagian depan otak yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Bagian otak tersebut belum terbentuk dengan sempurna hingga usia mencapai 25 tahun. Melihat hal-hal tersebut dari media sosial membuat mereka berisiko tertarik atau bahkan mengikuti perilaku buruk yang dilihatnya dari lini masa.

Menyalahgunakan dan berkelahi melalui internet itu mudah. Tetapi apakah mereka mampu melakukan pertarungan serupa di kehidupan nyata? Sebagian besar netizen pemberani itu biasanya justru ketakutan.

"MEDIA SOSIAL itu bukan "jendela" - dimana yang terlihat itu benar-benar seperti kenyataannya.Itu hanyalah sebuah "etalase" yang diatur/dirancang apa yang akan ditampilkan supaya orang tertarik mengikuti"

Jadi tidak perlu merasa bahwa sosok tersebut sesuai dengan apa yang dicitrakan, dan kita tidak perlu terlalu merasa mengenal betul sosok yang kita bela dan menelan mentah-mentah informasi, kemudian berseteru dengan melakukan "judgement" terhadap pihak yang berseberangan. Para netizen yang hobi berkomentar tak pantas dan pedas itu sebenarnya tidak berani jika dihadapkan pada kenyataan, karena mereka hanya bersembunyi dibalik akun palsu,karena didunia nyata belum mampu menjadi "sesuatu".
Karena perbedaan gaya interaksi di dunia online, banyak orang membangun persona online yang berbeda dibandingkan dengan kenyataan.

  So, calm down and be wise! Don't be over reacting.... :D


5.MENGGANGGU WAKTU ISTIRAHAT




Masa pandemi seperti sekarang ini, istirahat yang cukup adalah kebutuhan mutlak yang harus terpenuhi selain kesehatan melalui asupan bergizi dan vaksin tentu saja. Namun tersita perhatian ke media sosial telah memangkas waktu istirahat atau tidur kita secara signifikan.
Jika kita tidak mampu mengerem untuk melihat Youtube misalnya, yang selalu menyambung terus-menerus ,padahal sebenarnya kita tidak merencanakan melihat podcast Deddy Corbuzier yang selalu menarik itu.Youtube telah menguasai teknik menyita perhatian kita dengan menonton video satu demi satu hingga kehabisan energi atau baterai laptop habis. 

Media sosial terbukti bisa menyebabkan isu kesehatan mental seperti depresi, jika menggunakannya secara berlebihan. Pada Maret 2018, dilaporkan bahwa lebih dari sepertiga Generasi Z (berdasarkan survey dari 1.000 responden) berhenti dari penggunaan media sosial. Ini karena sebanyak 41 persen responden merasakan kesedihan dan depresi.

Berbagai bukti kaitan antara depresi dan media sosial

1.Salah satu peneliti studi, Jordyn Young dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa seseorang yang lebih jarang menggunakan media sosial umumnya cenderung tidak depresi dan tidak kesepian. Ia juga menambahkan, mengurangi penggunaan media sosial dapat menyebabkan terjadinya perbaikan, utamanya dalam hal kualitas kesejahteraan hidup seseorang.

Studi tersebut melibatkan 143 mahasiswa dari Universitas Pennsylvania yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok yang diperbolehkan melanjutkan penggunaan media sosial seperti biasa dan kelompok yang diberikan batasan signifikan terhadap penggunaan media sosialnya.

Selama tiga minggu, kelompok yang dibatasi tersebut hanya boleh mengakses media sosial paling lama 30 menit setiap harinya. Waktu tersebut dibatasi, yaitu 10 menit untuk masing-masing tiga platform yang berbeda, yakni Facebook, Instagram, dan Snapchat.

Untuk memastikan kondisi eksperimental tetap berjalan, para peneliti melihat data penggunaan aplikasi di ponsel para peserta, yang mendokumentasikan berapa lama waktu yang digunakan untuk membuka masing-masing aplikasi setiap harinya. Pada akhir studi, didapat hasil bahwa pada kelompok yang dibatasi penggunaan media sosialnya, tampak terdapat penurunan gejala depresi serta kesepian setelah membatasi penggunaan media sosial.

2.Berdasarkan eksperimen diUniversitas Pittsburgh, kualitas tidur lebih rendah ditemukan pada siswa dan perempuan.




6. KECEMASAN BERLEBIHAN

Hirarki kebutuhan kesehatan mental menurut Maslow (Source.Pinterest) 


 Beberapa aplikasi seperti Whatsapp, Facebook, dan Instagram telah membuat pengait dengan menunjukkan apakah penerima membaca pesan kita. Whatsapp menampilkan kapan orang terakhir online atau jika pengguna sedang online.

Ketika gebetan tidak membalas setelah membaca pesan kita, lantas merasa diabaikan,gara-gara pesan yang kita kirimkan belum "centang biru". Perasaan tidak aman muncul. Bisa jadi orang tersebut terlalu sibuk untuk membalas, tetapi pikiran kita selalu menganggap orang yang kita sukai itu bersikap cuek.

 Beberapa orang bahkan mempertanyakan orang lain mengapa dia tidak menjawab. Ini tidak hanya membuat orang lain kesal tetapi juga menyebabkan pertengkaran dan pertengkaran. Itulah salah satu alasan mengapa media sosial buruk bagi siswa karena perilaku seperti itu sebagian besar ada di usia yang lebih muda dan memudar seiring bertambahnya usia.

Memeriksa media sosial berlebihan memberi  kesan relaksasi yang salah. Tapi itu justru menghambat suasana hati dan menempatkan kita dalam pola pikir negatif.

7. TERLALU LAMA TERHUBUNG DENGAN MEDIA SOSIAL MEMICU KELELAHAN




Apakah menurut kalian media sosial merupakan sarana untuk melepaskan diri dari stres? 
Sedikit yang  mengetahui bahwa browsing feed media sosial hanya akan menambah kelelahan atau "fatique".  Apa kalian ingat betapa lelahnya pikiran ketika harus membuat banyak keputusan saat ingin memesan hotel ?

Misalnya, ketika sedang merencanakan liburan, kalian harus memilih hotel untuk menginap dan tempat untuk dikunjungi. Di akhir pemesanan, aktivitas tersebut membebani  karena harus membuat banyak keputusan, yang membutuhkan energi.

Saat menggunakan media sosial, kita dihadapkan pada  keputusan kecil satu demi satu. Haruskah saya mengklik posting ini? Apakah gambar ini layak untuk disukai? Apa yang bisa saya komentari tentang gambar ini? Seperti saat memasuki situs jasa tiket online misalnya.
Sesekali gunakan fasilitas telepon langsung atau mendatangi biro perjalanan lebih disarankan untuk melepaskan diri dari kelelahan karena berpikir sendiri.Biarkan mereka yang melayani kebutuhan kita.

Detoksifikasi perlu dalam bermedia sosial


KESIMPULAN :

Kesimpulannya di sini bukan berarti kita harus berhenti dari media sosial saat ini juga. Tetapi kita perlu mengidentifikasi apakah aplikasi itu menguntungkan  atau malah menyabot kebahagiaan . Media sosial hanyalah sebuah platform. Memiliki akses tanpa batas ke layar kaca atau media sosial itu bukan hal yang bagus malah  tidak sehat dan tidak cerdas, serta menambah rasa cemas.
Sebaiknya memang kita bisa mengatur jadwal screen time (waktu yang dihabiskan di depan gadget).
 Akan lebih baik jika kita bisa lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga daripada media sosial. Seperti mengobrol pada jam makan siang, jalan bersama, atau hanya duduk dan menikmati suasana. Itu semua akan lebih baik untuk kesehatan mental kita.

Karena sudah ada hasil studi yang mengemukakan bahwa aktivitas media sosial yang berlebihan dapat mengakibatkan rasa kesepian dan depresi, karenanya kita diharapkan bersikap bijak dalam hal penggunaannya. Misalnya saat bersama dengan teman-teman atau keluarga, sebaiknya jangan sibuk memandangi smartphone. Ingat, kebersamaan di dunia nyata jauh lebih membahagiakan ketimbang sibuk melihat berbagai konten unggahan di media sosial.

Untuk apa kita menggunakannya dan seberapa sering kita menggunakannya adalah pilihan . Menghabiskan berjam-jam setiap hari atau menggunakannya dengan bijak sesuai porsinya , keputusan ada ditangan kita. Bukan begitu?









34 comments for "PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KESEHATAN MENTAL DI ERA PANDEMI"

  1. Media sosial dengan sisi positif dan negatifnya. Kadang sangat menghibur dan membantu kerjaan. Tapi kadang juga bikin overthinking & overreaction. Gak sabaran ingin berkomentar di postingan orang lain, tanpa saringan lebih dulu. 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah yang bikin saling hate speech dimana-mana, karena setiap komentator tidak bisa menjaga sikap dan menahan diri untuk menanggapi secara positif.

      Delete
  2. Emang bener sosmed jadi warna tersendiri dalam kehidupan. Harus pintar2nya memanfaatkannya secara bijak agar tdk terpengaruh dengan aura negatifnya.Betewei aku suka infografisnya, caem kak ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kak, sudah singgah dan menyimak. Sosmed memang menghibur harusnya

      Delete
  3. Bagaimanapun kita memang harus bermedia sosial dengan bijak ya..agar mendaatkan manfaat positif dan terhindar dari dampak negatif medsos. Trmksh sharingnya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, selalu berpikir positif dalam menanggapi dan menahan jempol untuk mengetik yang kurang pantas akan lebih adem pastinya

      Delete
    2. sayangnya masih banyak yg blm berpikir demikian ya mba..nggak sedikit yg asal post atau asal komen lalu harus terkena/timbulkan masalah..

      Delete
  4. Dari 18 daftar media sosial nggak semua familiar nih aku, palingan 12an aja nih. Nggak apa apa deh bijak juga ya pilih medsos sesuai dengan kebutuhan kita, apalagi "kantor" juga di medsos nih selama pandemi

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, aku juga ga ambil semua medsos sih, menurutku Instagram dan Pinterest serta Tiktok yang paling menarik buat aku.

      Delete
  5. Kadang aku pribadi merasa perlu rehat juga sih dari media sosial.. terlalu banyak informasi yg ku terima selain nggak bagus untuk kesehatan mata juga emang nggak bagus ya untuk kesehatan mental

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget kak, disatu sisi ingin rehat dari medsos, apa daya sedikit2 tergoda untuk ngintip karena semuanya ada disana, huhu..gimana dong

      Delete
  6. Ada rasa hepi ketika membaca informasi atau menonton tayangan yang kita suka. Tapi juga ada rasa kesal dan marah kalau sebaliknya. Pada dasarnya kita yang paling tahu apa yang memiliki efek positif maupun negatif ke dalam diri. Lanjutkan untuk yang positif, tinggalkan atau kurangi jika minimal negatif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, tips yang cerdas nih. Kalau sudah overload , lebih baik tinggalin dulu daripada overthinking malah ga sehat buat kesehatan mental

      Delete
  7. Sosial media biasanya aku manfaatkan untuk mencari kerja, dan sedikit lihat-lihat kalo butuh hiburan virtual

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau cari kerja by sosmed apa daya sudah uzur umurku..huhu

      Delete
  8. media sosial sekarang ini memang tidak hanya untuk terhubung dengan satu dengan lainnya, tetapi segudang manfaat yang bisa kita ambil.. Ngomong ngomong tentang mental, saya juga masih berusaha buat tidak ketergantungan di dunia maya... hidupnya di dunia nyata kan haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih, kebanyakan didunia maya memang bikin kemrungsung ya, butuh back to reality

      Delete
  9. Intinya kita bener-bener harus bijak dalam menggunakan media sosial. Apalagi di masa pandemi yang berita hoax makin sulit dibedakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali, pokoknya jangan asal ngeshare seolah-olah yang paling valid lah

      Delete
  10. Sesekali kita perlu menepi dari riuhnya media sosial ya, mbak. Tapi sebagai freelancer yang ladang rezekinya dari media sosial maka kita harus kembali lagi menghadapi ramainya dunia media sosial ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang dilematis sih ya kak, pagi2 pinginnya udah nongkrongin sosmed karena yang dibutuhin ada disitu terutama as an influencer ya.

      Delete
  11. hihii...ternyata media sosial banyak sekali manfaatnya.
    Asal bisa memanfaatkan dengan baik, maka bisa menjadi hiburan yang luar biasa. Tapi seringkali malah menjadi insecure karena membaca judulnya yang clickbait.
    Hhuuhuu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang jadi ngikik dan jengkel sendiri kalo click baitnya ajaib , ga nyambung hahaha

      Delete
  12. Penggunaan media sosial juga perlu juga asal tau batas penggunaannya, nggak berlebihan juga atau untuk digunakan buat hal yang nggak semestinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harus sesuai porsinya dan disesuaikan dengan kebutuhan kita sih kak

      Delete
  13. Gilee ini tulisannya, panjang dan risetnya banyak. Keren sih ini, layak. Layak deh pokoknya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah menyimak artikel saya yg panjang ini ya mas. Semoga tidak membosankan 😊

      Delete
  14. Betul mbak. Aku kalau lagi baper atau galau mending libur medsos dulu. Oh ya, poin mengurangi jam tidur bener bisa juga, asyik scroll ternyata sudah jam sekian hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha,akupun begitu, palagi Tik tok...jadi lupa waktu🤣

      Delete
  15. Iya medsos jadi ladang penghasilan bagi banyak orang ya jadi berkah tersendiri apalagi di masa pandemi, medsos punya dua sisi tinggal kita manfaatkan dengan positif dan produktif

    ReplyDelete
  16. Wuihh!! artikelnya lengkap sekali dengan data data yang rigid. Semoga nanti yang baca ini pada lebih bijak lagi menggunakan media sosial dan menyikapinya.

    ReplyDelete
  17. Be wise, bener banget si. Bijaksana juga ketika memutuskan apa yg mo diposting.apalagi di share. Posting yg penting, jangan yang penting posting, gitu kan mbak cantik. :)
    Btw aku klo lagi sumpek ya aku deactive sosmed ntar kalo udah.lebih baik aku buka lagi main sosmed

    ReplyDelete
  18. media sosial itu memang ibarat pisau bermata dua. Tergantung bagaimana penggunanya memakainya. Aku sendiri lg berusaha untuk ga terlalu lama sosmed. Kalau pun buka sosmed, sbisa mungkin untuk hal2 berguna.

    ReplyDelete
  19. Setiap hal yang berkaitan dengan teknologi memang ada plus minusnya. Termasuk dengan maraknya media sosial yang mulai muncul bertahun-tahun lalu, terus berkembang, dan terkadang dianggap kebenaran oleh penggunanya. Memisahkan realitas dengan kehidupan bermedia sosial penting juga yaaa..

    ReplyDelete

Post a Comment

Silakan beri komentar ya, saya pasti balas asal NO SPAM dan NO SARA. Thank you...