WISATA NEGERI DIATAS AWAN DIENG-BANJARNEGARA DI ERA NEW NORMAL

 

WISATA NEGERI DIATAS AWAN DIENG-BANJARNEGARA DI ERA NEW NORMAL

Sebagai manusia sudah pasti harus selalu menjaga kesehatan baik didalam tubuh maupun kesehatan jiwa.
Lha bagaimana tidak, gara-gara pandemi Covid-19 yang datangnya tak terduga ini, jadi membuat penghuni bumi terkungkung didalam rumah, pergerakan jadi terbatas demi mencegah meluasnya penularan.Padahal hasrat pingin plesir dan jalan-jalan sudah diujung ubun-ubun.

Untungnya di Era New Normal Life ini, kondisinya berangsur-angsur membaik. Hal ini diiringi dengan dibukanya satu persatu tempat-tempat wisata, khususnya di Jawa Tengah. Ada 424 tempat wisata di Jawa Tengah yang sudah dibuka, dan akan ada 60 lokasi lagi menyusul.

Bersama Disporapar (Dinas Kepemudaan ,Olahraga dan Pariwisata) Provinsi Jawa Tengah, pada tanggal 19-21 Oktober 2020  kemarin diselenggarakan #JatengOnTheSpot2020 dengan destinasi ke Dieng-Banjarnegara dan Posong-Temanggung. 
Wisata ini untuk memperkenalkan Pariwisata Jawa Tengah ditahun 2020 ini. Menggandeng blogger, pengelola website dan media, Pemprov Jateng memiliki misi untuk memperluas publikasi sehingga  dapat membangkitkan gairah wisata para pelancong yang sempat lesu akibat pandemi. Tujuannya agar destinasi pariwisata Jawa Tengah akan semakin dikenal oleh masyarakat.


Para Peserta mendengarkan arahan Bu Tanti Apriani (Kasi Pengembangan Pasar Disporapar Jateng ) sebelum berangkat ke Wonosobo.



Para penggiat sosial media yang berjumlah 15 orang bersama tim dari Disporapar berangkat dari kantor Disporapar Prov.Jateng di Jl.Ki Mangunsarkoro 12 menuju ke Wonosobo.
Sebelumnya ,Ibu Tanti Apriani selaku Kasi Pengembangan Pasar Disporapar Jateng memberikan arahan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kembali jumlah kunjungan wisatawan ke wilayah Jawa Tengah melalui promosi yang dilakukan oleh penggiat sosial media .




Sekitar 2,5  jam , sampailah rombongan ke Wonosobo, tepatnya di Dewani View Resto & Cafe -Wonosobo .
Para peserta berdiskusi bersama Bapak M. Ngainirrichadl,S.HI (Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah) tentang apa saja yang bisa dilakukan untuk mendongkrak pariwisata yang sempat terpuruk. Bapak Richard memberikan pengarahan bahwa obyek-obyek wisata sudah melalui pendataan mana-mana saja yang layak dibuka. Tidak lupa dilakukan evaluasi dan monitoring disetiap obyek wisata agar tetap melakukan protokol kesehatan bagi para pengunjung, seperti menyediakan tempat cuci tangan, mengecek suhu tubuh dan menjaga jarak saat berada ditempat wisata dengan tetap menggunakan masker.


(Sumber: Pribadi)




Bertempat di Dewani Resto Wonosobo, para awak media berdiskusi bersama Disporapar dan Perwakilan DPRD Komisi B, Bp Richard tentang bagaimana cara meningkatkan kembali jumlah kunjungan wisatawan,khususnya di Banjarnegara dan sekitarnya. (Sumber Foto:Novia-Radar Pekalongan).

Akibat dari Pandemi Covid-19 ini memang sangat memukul pengelola wisata dan banyak sekali obyek wisata berhenti beroperasi , padahal masyarakat sangat membutuhkan hiburan yang bersifat rekreatif dan relaksasi untuk menghilangkan stres.Oleh karena itu di era new normal ini perlu disusun strategi untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan.Salah satu upayanya adalah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, menjaga kebersihan, menyemprotkan disinfektan baik ditempat wisata maupun mengedukasi para wisatawan untuk taat aturan mengenai adaptasi Normal Baru.

Adapun pemilihan destinasi adalah di Dieng-Kabupaten Banjarnegara serta Posong-Temanggung karena memiliki obyek wisata yang sangat menarik ,alami , indah, serta aksesibel , dapat dijangkau oleh transportasi umum.




Selesai makan siang dan menyampaikan uneg-uneg berkaitan dengan pariwisata Jawa Tengah , para peserta Jateng on The Spot 2020 menuju Dieng yang dikenal juga sebagai "Negeri Di Atas Awan". Hujan gerimis syahdu menyambut kedatangan kami menyelusuri jalan yang membelah lembah naik menuju dataran tinggi Dieng,dengan pemandangan elok perkebunan kentang, sayuran, dan hutan dikiri kanan. Hawa sejuk sudah mulai terasa, sayup-sayup terdengar suara tour guide ,mbak Elko yang menjelaskan tentang legenda dan keistimewaan Dieng, karena kebetulan dia asli orang Dieng. Kantuk yang semula menggoda, langsung lenyap seketika demi mendengar kelucuan-kelucuan pertanyaan para peserta seputar Purwaceng dan rambut gimbal, sesekali Aak , begitu kami memanggil sopir mobil kami menimpali dengan celotehan-celotehannya yang bikin terpingkal-pingkal.  :D

Fyi, Dataran Tinggi Dieng  adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya. Sesungguhnya itu adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air, dan berbagai material vulkanik lainnya. Kondisi ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah tersebut, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979.Menurut mbak Elko, ini karena salah persepsi dari penduduk yang mengira bahwa ketika mereka berbondong-bondong  menghindari sumber letusan yang diberitakan,  padahal justru rekahan disepanjang sumber letusanlah yang menyebabkan kebocoran gas ,sehingga banyak yang tewas disekitar kawah Sinila yang semula menurut mereka aman.
 Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.

KEUNIKAN DIENG YANG PERLU KALIAN KETAHUI

1.Setiap tahun diselenggarakan Dieng Culture Festival yang meriah dan menarik minat wisatawan.


Salah satu daya tarik utama wisata Dieng adalah penyelenggaraan Dieng Culture Festival setiap bulan Agustus. Karena pandemi kali ini, terpaksa kegiatan jadi mundur . Menurut Alif Fauzi selaku ketua DCF, Dieng Culture Festival (DCF) tahun ini  digelar secara virtual dan gratis pada 16-17 September 2020 lalu melalui YouTube, Facebook, Instagram, dan Mice.id. Konsepnya  hanya undangan VIP 50 orang, stakeholder terkait DCF dengan kegiatannya yang hanya disiarikan secara live saja.


Acara DCF 2019 lalu yang sangat meriah. (Sumber: Travel Kompas)


Prosesi pemotongan rambut pada rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2016 di Komplek Candi Arjuna, Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah.(Sumber: Arsip Kelompok Sadar Wisata Dieng)





Dari tahun ke tahun, acara  DCF ini sukses menyedot puluhan ribu wisatawan lokal maupun internasional.
Berbagai acara budaya dipertontonkan pada event ini,  antara lain prosesi ruwatan anak rambut gimbal, pertunjukan seni, Jazz di Atas Awan, pelepasan ribuan lampion, dan beragam acara tradisi lainnya.

Penduduk Dieng sangat meyakini mitos bahwa anak berambut gimbal adalah pembawa kemakmuran.
Konon, mereka adalah titipan dari Kyai Kolo Dete, seorang punggawa pada masa kerajaan Mataram. Bagi masyarakat Dieng, jumlah anak rambut gimbal berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat Dieng. Semakin banyak, semakin sejahtera, begitulah yang mereka yakini.Penduduk Dieng sendiri merupakan keturunan Hindu dari Kasta Brahmana.


2. Budidaya carica, buah endemik yang hanya ada di Dieng

Jika ke Dieng, tak lengkap rasanya mencoba mie ongklok, selain Purwaceng yang  menjadi oleh-oleh khas Dieng lainnya . Purwaceng merupakan tumbuhan berkhasiat yang bentuknya mirip dengan ginseng. Purwaceng dapat diolah menjadi jamu maupun minuman tradisional sehingga banyak diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Dieng, karena rasanya yang sedikit pedas dan hangat di tubuh.

Mie Ongklok,pengusir hawa dingin di Wonosobo (Sumber:Bambangpriantono.wordpress.com)




Purwaceng identik untuk meningkatkan stamina pria. Namun, wanita pun juga sah saja meminumnya, karena purwaceng memiliki khasiat lain antara lain melancarkan peredaran darah, obat masuk angin, menghangatkan tubuh, dll.

Selain purwaceng, tanaman endemik lain yang hanya ada di Dieng adalah buah carica. Tekstur dan bentuknya mirip dengan buah pepaya, namun ukurannya lebih kecil. Masyarakat setempat mengolahnya menjadi manisan atau minuman kemasan agar wisatawan dapat dengan mudah menyantapnya dan membawa pulang buah manis nan lezat ini sebagai oleh-oleh.
Pada acara kemarin, kebetulan kami dibawa ke tempat pengolahan carica untuk mengenal bagaimana buah Carica dan cara pengolahannya hingga siap disantap.



PROSES PENGOLAHAN CARICA :

  1. Pertama-tama, cuci buah carica lalu belah jadi dua. Sisihkan bijinya di wadah lain, karena biji carica bisa direbus untuk membuat manisan. 
  2. Potong daging buah sesuai selera dan kebutuhan. Hati-hati dengan getah carica.Kemudian direndam di air kapur untuk menghilangkan getahnya. 
  3. Setelah itu cuci daging buah carica dengan air mengalir untuk menghilangkan getahnya.
  4.  Masukkan biji carica yang sudah disisihkan tadi dalam air mendidih. Biji carica dapat memunculkan aroma khas buah ini, tapi tidak bisa dikonsumsi. 
  5. Oleh karena itu setelah aroma carica tercium, saring biji-biji tersebut dan sisakan air rebusannya. Panaskan lagi air rebusannya dan masukkan buah carica yang sudah dicuci dan bebas getah. Masukkan gula dan garam sesuai selera, lalu aduk hingga larut. 
  6. Carica siap dikemas setelah didinginkan, dan proses meresapkan manisan ini berlangsung 1 minggu .

3.Suhu udara mencapai minus saat embun upas melintas.

Embun upas menyelimuti tanaman, seperti salju. (Sumber:  Tribunnews.com)


Embun upas muncul saat musim dingin, yaitu di bulan Juli – Agustus, biasanya embun menempel di tumbuhan, kemudian mencair di siang harinya, membuat tumbuhan membusuk. Hal ini cukup merugikan para petani di Dieng. Ternyata suhu minus juga bisa terjadi dinegara tropis seperti di Dieng ini. Suhu yang tercatat mencapai minus 5 derajat yang terendah. WOW!
Dataran Tinggi Dieng dikelilingi oleh bukit dan gunung, yang membuat lembah dieng yang sudah berada di dataran tinggi tersebut, masih lebih rendah dibandingkan bukit dan gunung di sekelilingnya. Kontur yang berbentuk cekungan tersebut membuat suhu udara Dieng saat malam hari justru lebih rendah dibanding puncak di sekelilingnya, karena angin malam yang mengarah ke bawah.

Tak heran, saat musim kemarau, suhu dieng bisa mencapai minus 0 derajat celcius. Saat puncak musim kemarau tiba, setiap pagi kamu bisa menemukan kristal es yang menempel di rumput dan pepohonan.







Tak terasa sampailah kami ke Rumah Budaya Dieng, yang terletak di samping museum Dieng Kailasa, Karangsari Banjarnegara. Turun dari mobil, udara dingin sudah mulai menyergap, harus buru-buru pakai mantel nih, sepertinya samcan eh lemak tebalku menyerah ditembus hawa dingin Dieng juga...hihi.

Memasuki Rumah budaya, kami disambut pengalungan syal oleh mas Alif Fauzi selaku Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa. Sepak terjangnya untuk memberdayakan masyarakat sekitar Dieng bersama timnya dengan dibantu Pemerintah  patut diacungi jempol .

Generasi muda yang membaktikan diri untuk kemajuan masyarakat setempat melalui UMKM-UMKM dengan melakukan pendampingan dalam meningkatkan pendapatan.Antara lain melalui pengolahan buah carica menjadi komoditi yang bisa dijual lebih tinggi nilainya,tidak hanya sekedar buah saja. Mengolah ginseng dieng alias purwaceng, terong belanda. Ada juga kerajinan kayu Dieng yang sudah mulai berkembang  seperti menghias wayang untuk dijadikan souvenir, gantungan kunci, dll. 
Ada program rekreasi yang melibatkan siswa-siswa sekolah ,dimana mereka bisa ikut menghias kerajinan, memanen kentang, dan tur-tur yang bernilai edukasi. Kegiatan ini telah dilakukan sebelumnya dengan rombongan siswa sekolah di Jakarta beberapa waktu lalu.







Tak ketinggalan para peserta juga ikut menghias kerajinan wayang Semar,melatih rasa seni. 


Kami menginap tepat dibelakang rumah budaya , bernama Omah Dieng.
Kebetulan saya ditempatkan sekamar dengan mbak Hidayah dalam satu paviliun .Didalamnya ada 4 kamar yang memuat masing-masing kamar 2-3 orang, lengkap dengan kamar mandi dalam.
Bangunannya full kayu nan unik, semakin menambah kehangatan hawa Dieng yang begitu menusuk kulit.
Seluas mata memandang, hamparan alam tersaji indah dan menakjubkan. Tepat didepan teras terlihat Candi Arjuna, begitu dekat  hanya sepelemparan mendoan.
Paviliun dilengkapi teras depan dan belakang, ruang duduk ditengah ruangan , dan ruang cuci serta pantry dibelakang lengkap dengan kompornya. Tetapi sepertinya begitu sayang melewatkan suasana ,hanya untuk memasak. Lagipula dingin banget , siapa yang rela keluar?..brrrrr

Oemah Dieng, homestay yang kami inapi selama di Dieng (Sumber: Pribadi dan Dinilint)






Tempat yang sangat tepat untuk melepas penat, dikelilingi alam yang sangat indah dan udara yang sejuk.


Tarif sewa homestay Oemah Dieng 1 paviliun adalah Rp 1.750k perharinya. 
Bisa juga sewa perkamar dengan harga 350k/450k/550k.

Menikmati secangkir kopi dikesejukan pagi bersama mbak Hidayah dan Dini.






Panorama diteras belakang dan teras depan begitu menakjubkan (Sumber: Pribadi)



Kailasa Band menyuguhkan musik-musik "easy listening" yang begitu merdu.


Malam harinya kami dihibur oleh penampilan Band  Kailasa Musik dengan lagu-lagu yang  cukup menghangatkan suhu area Dieng yang cukup dingin .Nama “Kailasa” diambil merujuk kepada tempat tinggal Dewa Siwa, yaitu di Gunung Kailasa .Kebetulan anggota mereka adalah putra asli Dieng.Sangat menghibur dengan kemampuan bermusik mereka yang sangat baik dan sedikit jazzy.

Sambil menikmati santap malam, ada pertunjukan Tari Lengger Topeng, yaitu kesenian khas daerah setempat. Diiringi oleh gamelan, dan disajikan oleh 4 penari pria serta 1 penari wanita yang begitu luwes, cukup menarik perhatian para peserta.Sudah lama tidak menyaksikan tarian tradisional secara Live.



Mencoba menari Lengger walaupun gerakanku gagah gemulai,hihi..




Para penari berfoto bersama para peserta seusai penampilan.


Kata lengger sebenarnya adalah singkatan dari kata “Eling yo ngger!”yang artinya“Ingatlah nak!”. 
Ada juga yang menyebutkan bahwa kata lengger berasal dari kata ‘le’yang berarti anak laki-laki dan ‘ger’yang berarti geger atau ramai, hal ini karena banyak laki-laki yang hadir dalam setiap pertunjukan tari ini. 
Tari lengger topeng sudah ada sejak Kerajaan Kediri pada masa Prabu Wijaya dan disebut ronggeng. Tarian ini bercerita tentang kisah asmara Putri Sekar Taji yang merupakan Putri Prabu Wijaya dengan Panji Asmoro Bangun. Prabu Wijaya kehilangan anaknya,Putri Sekar Taji yang melarikan diri karena menolak dijodohkan oleh ayahnya dengan Prabu Klono. Kemudian Prabu Wijaya mengadakan sayembara yaitu bagi siapa saja yang berhasil menemukan putrinya maka akan dijadikan sebagai menantu jika dia pria dan diangkat menjadi putri jika seorang wanita. Kemudian Panji Asmoro Bangun berhasil menemukan Putri Sekar Taji namun saat itu pasukan Prabu Klono sudah mengikuti Panji Asmoro Bangun dan kemudian terjadilah pertengkaran antara Panji dan Pasukan Prabu Klono. Pertengkaran itu dimenangkan oleh Panji Asmoro dan akhirnya merekapun menikah sesuai dengan janji Prabu Wijaya.

Ada hal unik dari tari Lengger topeng yaituketika pesertanya mengalami mendem atau kerasukan roh.Saat itulah sang penari seakan berada dalam kondisi diluar kesadaran dan mulai bertingkah aneh bahkan menirukan gerakan hewan seperti monyet atau harimau,bahkan kadang memakan pecahan kaca, menginjak bara api, mencambuk diri sendiri,serta aksi kekebalan lainnya. Namun untuk pertunjukan kemarin, hanya adegan penari wanita menaiki bahu salah satu penari pria sambil menari dan membawa boneka serta payung. Cukup mendebarkan namun diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah karena ditarikan dengan cantik.

MENUJU TELAGA DRINGO DENGAN KENDARAAN JEEP








Hari Kedua, kami diajak wisata ke Telaga Dringo dengan menaiki Jeep. Ada belasan jeep dengan muatan penumpang 3 ditambah 1 sopir yang membawa kami melalui tanjakan berkelok .
Dalam perjalanan menuju Telaga ini mata disegarkan dengan  hamparan perkebunan kentang, wortel, lobak, dan sayuran lainnya di kiri dan kanan jalan. Asyik bisa menyaksikan aktivitas pertanian para petani Desa Pekasiran di perkebunan yang dikelilingi oleh perbukitan ini.

Telaga Dringo terletak di Banjarnegara, merupakan salah satu tempat wisata yang berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.
Berada di ketinggian 2.222 mdpl, Telaga Dringo menyuguhkan pemandangan alam yang sangat indah, asri, bebas polusi, dan tenang.Telaga Dringo terbentuk akibat letusan Gunung Sinila pada tahun 1786. Pada saat letusan, Gunung Sinila hancur dan menyisakan cekungan besar berupa kawah mati. Lama kelamaan terisi oleh air hujan dan mata air yang mucul di sekitar telaga. Dringo sendiri adalah tumbuhan yang banyak tumbuh secara alami di dekat telaga yang kemudian menjadi asal-usul nama Telaga Dringo.

Di kawasan Telaga Dringo juga cocok sekali  untuk tempat camping. Pemandangan Telaga Dringo yang dikelilingi perbukitan hijau dan masih asri dan bebas dari polusi udara akan membuat  betah camping. Dan yang paling dicari adalah pemandangan alamnya. Letaknya yang tinggi membuat lanskap Dataran Tinggi Dieng terpampang indah di depan mata. Karena akses jalan yang menanjak itulah, jadi lebih baik menggunakan kendaraan 4WD agar kuat naik seperti jeep. 

Menurut sopir yang membawa kami kemarin, biayanya 750k menuju 8 titik lokasi, termasuk kawah Sikidang, Candi Arjuna, dsb. (Lebih baik daripada jalan kaki atau pakai kendaraan sendiri bukan? pegel en metekol gezz! :D )

Jangan coba-coba pakai mobil sedan karena jalan ke Telaga Dringo ini sangatlah naik, curam dan jalannya pun masih tanah dan berbatu. Lebar jalan yang cukup untuk 1 mobil membuat harus hati-hati jika berpapasan, karena sangat sempit ,Tetapi ini terbayar lunas dengan melihat pemandangan "Ranu Kumbolo" versi Jawa Tengah. Amazing!








Jika ingin berkunjung atau berkemah di Telaga Dringo, pastikan untuk tidak membuang sampah sembarangan agar lingkungan tetap terjaga. Pada masa pandemi seperti saat ini, pastikan saat berkunjung tetap melakukan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, dan tidak bepergian jika demam atau suhu tubuh di atas 37,3 derajat Celsius.


Baca juga kisah menegangkan dengan naik jeep offroad 4WD naik gunung Telomoyo di SINI

PERJALANAN YANG MEMACU ADRENALIN MENUJU KAWAH SIKIDANG

Menuruni Telaga Dringo, Jeep membawa kami ke kawasan Kawah Sikidang.
Kawah Sikidang adalah salah satu kawah yang dijadikan andalan tempat wisata di Dieng dan berlokasi di wilayah Dieng timur. Pemandangan di sekitar kawah ini sangat indah, perpaduan hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar tanah kawah.
Diberi nama Sikidang karena kolam magma di kawah ini sering berpindah-pindah seperti Kidang (bahasa Jawa untuk hewan Kijang). Gejolak magma di kawah ini juga cukup tinggi, antara setengah hingga satu meter.

Cukup memacu adrenalin karena jeep membawa rombongan melalui sabana, membelah jalur berlumpur dan naik turun. Jiwa petualanganku serasa terpenuhi demi melakukan offroad ke kawasan Sikidang.
Sesekali mobil yang lainnya harus mengambil ancang-ancang agar bisa melewati kubangan dan tanjakan. Kapok? Tentu tidakkk! Buat yang sudah sepuh, tidak disarankan ya, daripada jantungan...tapi kalau suka yang ekstrim-ekstrim, bolehlah...dicoba.

Kawasan kawah Sikidang





Untuk memasuki kawasan wisata Kawah Sikidang Dieng  dikenai harga tiket masuk yang merupakan tiket terusan dari obyek wisata Kompleks Candi Arjuna dan Candi Bima sebesar Rp15.000,-. . Harga yang murah untuk tiga obyek wisata sekaligus. Lokasi Kawah Sikidang dibuka setiap hari dari jam 07.00-16.00 WIB.



MENUJU CANDI ARJUNA YANG MENAWAN

Candi adalah sebuah simbol kepariwisataan di Dieng. Candi jugalah yang membuat Dieng menjadi tempat yang sakral. Di sini terdapat banyak Candi Hindu yang tersebar di berbagai lokasi.
Candi-candi yang terdapat di Dieng diberi nama sesuai dengan tokoh Mahabarata. Ada Candi Bima, Arjuna, Gatot Kaca, Srikandi, dan lain-lain. Model bangunan candi di sini mengikuti bentuk candi di India dengan ciri khas arca dan relief yang menghiasi bangunan candi.

Memasuki kawasan Cagar budaya Candi Arjuna, sudah disediakan tempat cuci tangan. Jadi para wisatawan diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di era Kebiasaan Baru saat ini. Syukur-syukur kebiasaan ini akan terus berlanjut sampai kapanpun menjadi sebuah gaya hidup. Hal yang baik sudah selayaknya dijaga bukan?
Kemudian memasuki pintu masuk ke areal, ada pengecekan suhu tubuh. Buat yang suhunya diatas 37,3 derajat celsius disarankan untuk pulang saja.
Protokol kesehatan tetap harus diutamakan, dengan selalu memakai masker dan menjaga jarak. Jangan bergerombol . Banyak sekali spot-spot cantik untuk berfoto ria, ada pula bunga panca warna yang bunganya selalu berganti-ganti warna setiap musim dan dandelion yang sangat instagramable buat narsiser2 termasuk saya...#sigh.










Candi Arjuna sebagai salah satu landmark kawasan Dieng



Setelah makan siang kami berkemas menuju ke Posong Temanggung yang sudah mirip Switzerland. Pemandangan yang begitu indah dan berkabut , ga usah jauh-jauh ke Eropa , di Jawa Tengah juga ada.
Nantikan ulasannya segera. Dijamin bikin mupeng!






TIPS:

Sebelum pergi ke Dieng, sebaiknya kalian  wajib mempersiapkan kondisi fisik. Terutama bagi  yang tidak tahan terhadap udara dingin. Suhu di Dieng cukup dingin sekitar 10-15 derajat celsius, jika tidak hati-hati kalian malah bisa jatuh sakit dalam perjalanan yang seharusnya bisa membuat  senang. Untuk bisa sampai ke Dieng  bisa menggunakan alternatif perjalanan darat baik menggunakan bus,kendaraan pribadi  ataupun kereta api.










21 comments for "WISATA NEGERI DIATAS AWAN DIENG-BANJARNEGARA DI ERA NEW NORMAL"

  1. jalan-jalan di dieng memang menyenangkan ya mbak, puas banget, luas, bahkan nggak cukup sehari hehehe, hhhmmmm enaknya kapan ya ke sana lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segera diagendakan..lumayan refreshing sama anak lanang...😊

      Delete
  2. Seru banget Mbak jalan-jalannya, aku penasaran dengan mi ongklok kayanya endeus banget ya...semoga Dieng bisa rame lagis pariwisatanya yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin...tapi aku kok ga gitu suka sih sama mie ongklok makdew. Mending indomie...haha..#generasimicin 🤤

      Delete
  3. Seru yaa bisa jalan2 lagi di tengah pandemi. Semoga pengunjungnya selalu menaati protokol kesehatan, biar pariwisata bisa bangkit lagi ya mbak..

    ReplyDelete
  4. Ya Allah jadi kangen sama Dieng deh udah lama banget ga main ke sana. Banyak tempat seru dan cantik, mi ongklok juga enak banget dan yg paling nyenengin tu ga perlu sering2 mandi karena udaranya dingiin hahahah

    ReplyDelete
  5. Yupz, selain karena memang suhunya yang begitu, juga medannya yang menanjak. Pasti ada spot yang mengharuskan kita jalan kan. Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada dong. Kebetulan candinya pas didepan penginapan. Cukup jln kaki sampe deh

      Delete
  6. Waah..pengen banget bisa ke Dieng ini mba, udah impian banget nyampe ke si kidang sama menikmati sate kelincinya..moga mudik berikutnya bisa kesini

    ReplyDelete
  7. Dieng, satu destinasi yang masih masuk dream list visit.
    Mudah2an segera bisa ke sana, dan bisa nyontek trip seru mbak Archa di atas ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pingin ke lombok jg nih bunsal...udh lama ga kesana

      Delete
  8. Nah jadi ingat loh, kalo kemarin itu kok kita nggak ngincipi mie ongklok ya. Biasanya kalo ke Wonosobo selalu makan mie ongklok. Asik dan seru ya pengalaman jalan-jalan di era new normal kemarin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mbak. Plgi kita sekamar ngrempong..haha

      Delete
  9. Asyik banget ya naik jeep di Dieng ���� pengen deh nyobain pas pulkam.

    Asli baca tulisan Mbak Archa auto kangen pulang, kangen Dieng, mie ongklok, Carica... Dll

    ReplyDelete
  10. Seru nih mengikuti kisah jalan-jalan ini, berasa ikutan ada di sana langsung deh. Merasakan dinginnya Dieng dan ikut terpacu adrenalin saat membayangkan naik jeep offroad gitu.

    ReplyDelete
  11. Loh ku kira DCF tahun ini nggak diadain karena nggak ada info dari temen di wonosobo, ternyata virtual ya, baru tau nih

    ReplyDelete
  12. Aku dong belum pernah ke Dieng, kalau Caricanya sih udah sering banget makan, wkwk. Emang enak sih Carica ini, segeer, apalagi kalau udara lagi super panas. Pengen banget lihat tradisi pemotongan rambut gimbal, semoga kapan2 bisa terwujud aah jalan2 ke sana.

    ReplyDelete

Post a comment

Silakan beri komentar ya, saya pasti balas asal NO SPAM dan NO SARA. Thank you...