AKU KORBAN BULLYING DI SEKOLAH




Bicara tentang bullying alias perundungan, serasa seperti menguak luka lama yang ingin kukubur dalam-dalam. 
Tulisanku dibawah ini bisa jadi akan mengalir sangat lancar karena akulah korbannya, atau malah tersendat ditengah jalan, karena aku muak untuk mengingatnya.

Tema yang sudah berkecamuk 10 hari yang lalu, ingin segera menuliskan namun ada enggan yang berkecamuk dibenak.
Sampai sore tadi, tak sengaja aku ngobrol dengan teman lamaku, kami bersekolah di SMP yang sama, tetapi tidak pernah mengenal karena aku dikelas bawah, dan dia dikelas atas.
Baru bisa berbincang lama sore ini, dan tak sengaja mengorek kenangan perundungan yang aku alami di SMP yang dia tahu.

Akhirnya aku bisa lega menuliskan ini semua, karena temanku tadi, kebetulan seorang pria , doktor spesialis diRumah Sakit International di ibukota, telah sukses membawa pengakuanku itu bukan lagi menjadi hal yang menghantui dan menyeramkan , tetapi aku kini bisa menertawakannya, karena jika diingat-ingat memang menggelikan.

Baiklah aku akan bercerita apa yang terjadi saat aku sekolah dibangku SMP itu.

AKU KORBAN BULLYING TEMAN SEKELAS


Jika membaca tulisan diatas, mungkin kalian mengira aku dibully oleh salah satu teman sekelasku.
Kalian keliru.
Aku dibully oleh teman sekelas, semuanya.
Separah itukah aku hingga satu kelas membullyku?

Aku jujur tidak tahu dimana letak kesalahanku , hingga mereka menjauhiku.
Saat SD ,aku tergolong murid yang cerdas dan bisa dikatakan selalu the big 5.
Aku sempat mewakili sekolahku menjadi murid teladan.
Semua teman SDku segan dengan kepandaian dan prestasiku, hingga mengantarku ke sebuah SMP Favorit dengan sangat mulus.

Pribadiku yang supel, menonjol dengan pembawaan yang riang, ceplas-ceplos, percaya diri, ternyata mengusik eksistensi sekawanan "jagoan" dikelasku yang terdiri dari 5 orang wanita.
Ya bisa dikatakan warrior atau warok lah!
Mereka menguasai kelasku dengan sikap mereka yang petentang-petenteng.
Gampang mengeluarkan kalimat yang intimidatif, jago mengadu domba dan ahli melecehkan harga diri orang lain.
Sekumpulan manusia yang memiliki aura yang sama, aura negatif.

Sebagai anak yang sedang menuju peralihan dari SD ke SMP, umur masih belasan awal, penindasan adalah sebuah pengalaman yang sangat traumatik.
Jika bullying itu terjadi saat aku SD, bisa dikatakan anak SD masih kekanak-kanakan, paling sebentar lupa dan terus main lagi seperti biasa.
Jika di bangku SMA, mereka sudah remaja yang memiliki kemampuan berpikir lebih matang, sehingga bisa menepis untuk tidak berkepanjangan.
Tetapi ini kualami saat aku SMP, dimana jenjang pra remaja, saatnya berpindah dari anak menuju ke akil balig. Saat pubertas mulai dirasakan, dan menjadi diri sendiri mulai terbentuk, nyatanya menjadi ajang ujianku selama 3 tahun di SMP itu.

Selama 3 tahun aku duduk dibangku terdepan, pas berhadapan dengan meja guru.
Sebelahku yang harusnya terisi teman sebangku, tidak ada satupun yang mau sejajar denganku.
Seringkali saat ulangan, terdengar krusak krusuk bangku belakang leluasa mencontek, aku hanya terpaku diam , tanpa punya nyali untuk menoleh.
Ketika guru bergiliran memanggil salah satu murid untuk mengerjakan soal dipapan tulis, saat tiba giliranku, pasti terdengar suara koor, "huuuuuuuuuuuu..."
Dan saat aku menggoreskan kapur untuk mengerjakan soal, terdengar bunyi, "hoekkk...cuihhh...hoeeekkkkk", seolah-olah aku najiz.

Dan itu berlangsung setiap saat.

Ketika masuk ke kelas dan harus berbaris 3 , aku mencoba disiplin untuk berada dibaris terdepan, sedangkan 2 temanku lainnya sudah berada disebelahku.
Apa yang terjadi?
Tidak ada satupun orang yang mengisi barisan dibelakangku.
Terpaksalah aku mundur dan menempati barisan paling belakang dari 3 baris yang sudah dibentuk oleh temanku yang lain.
Selalu saja begitu.

Belum lagi saat pelajaran olahraga volly.
Ketika saatku service alias melambungkan bola dengan hentakan tangan, yang terjadi adalah, semua teman-temanku duduk lesehan sambil bilang, "Halahhhh, paling rak tekan , paling bal e melenceng " sambil menertawakan penuh kepuasan.

Dan memang, sikap merendahkan harga diri mereka itu membuat bola yang akan aku service tidak sampai dan melenceng, karena belum-belum aku sudah down.

Sempat aku berkeluh kesah pada ibuku dikelas 2, "Bu ,aku sudah tidak betah disekolah itu", kataku memelas. Tapi lagi-lagi ibuku selalu memompa semangatku, "Sabar..setahun lagi, kamu tidak akan bertemu mereka lagi.."

Dan aku berusaha untuk menguatkan diriku, tetap menjalani bullyan ini dengan tetap mengusahakan nilai-nilaiku tidak sampai jatuh.

Sebenarnya, setelah aku pikir-pikir, mengapa anak-anak cowo yang lainnya mau-mau saja mengikuti hasutan bulliers dikelasku. Ternyata mereka tidak mau jadi korban bullying seperti aku, jadi mereka nurut-nurut saja.
Sedangkan aku tetap pada prinsipku.
Aku tidak mau disuruh-suruh mereka ambil ini itu, tidak mau dikompasin untuk nraktir, tidak mau disetir oleh mereka, itulah mengapa aku jadi sasaran empuk hasrat mereka untuk menindas.

Cara mengajarkan kepada anak apa yang harus dilakukan jika menemui perundungan/bullying.
Cara mengajarkan kepada anak bagaimana sikap jika menemui perundungan/bullying.
Kelak, aku mengajarkan kepada anak-anakku agar bisa pasang badan ,jika menjadi korban perundungan agar tidak sampai hanyut dalam pengalaman seperti ibunya dulu.



TIPE-TIPE BULLYING



Dilihat dari tipe-tipenya, bullying ada beberapa hal, yaitu :

  1. Verbal Bullying, bisa dengan merendahkan harga diri, memanggil dengan sebutan nama tidak layak, melontarkan kata-kata cemoohan, dsb.
  2. Sosial Bullying, seperti berkata ke orang lain tentang pribadi seseorang yang ditambahi negatif, menghasut agar jangan mendekati kita, mempermalukan secara frontal didepan umum,dll.
  3. Physical Bullying, sudah mengacu ke kekerasan fisik, bisa dengan menendang, menampar, menjambak, mendorong , meludahi, dsb.
Dan dari ceritaku diatas , aku masih termasuk dibully secara verbal alias lisan dan sosial , belum sampai secara fisik.
Tetapi jujur, traumatis itu masih melekat loh, sampai aku berumur menjelang 40tahun.
Pernah suatu ketika ada reuni kecil saat aku berumur 35 tahun , ada salah seorang teman sekelasku, kebetulan ketua kelas waktu SMP.
Dia mengundangku untuk kumpul-kumpul makan bareng dikafe dengan teman-teman SMP.
APa yang kurasakan?
Anehnya, ada perasaan ketakutan yang entah darimana hal yang tidak logis itu muncul.Padahal mungkin orang-orang yang membully aku sudah lupa kejadian puluhan tahun yang lalu.

Akhirnya aku membatalkan untuk bertemu dengan alasan aku ada acara.
Padahal sebenarnya aku tidak mau sikapku yang kekanak-kanakan, alias masih gagal move on itu tiba-tiba nongol dan merusak acara.
Lebih baik aku menghindarinya dulu sambil berusaha berpikir positif dan nalar.

(Dan akhirnya aku sekarang sudah bisa berdamai dengan mereka, karena ternyata setelah setua ini, sikap mereka berubah 180 derajat. Seperti kejadian SMP itu tidak pernah terjadi, mereka justru mengagumiku sebagai pribadi yang sukses sekarang, dan mereka respek. Kejadian inilah yang akhirnya menghempaskan semua ketakutan-ketakutanku yang tak beralasan. Sudah tidak ada lagi traumatis. Itu hanyalah kenangan masa kecil, salah satu episode perjalanan hidup seorang pribadi seperti aku).


Jadi bisa kusimpulkan, hal inilah yang menyelamatkanku hingga bisa berdiri tegak hingga sekarang, tidak minder karena pernah menjadi korban bullying.

Sesuatu yang paling berani adalah Jadilah diri sendiri!




Peran orangtua, seperti ibuku yang selalu menyemangati hingga aku bisa keluar dengan prestasi cukup baik di SMP berhasil memompaku agar tidak patah semangat.
Hal ini pulalah yang selalu kutanamkan pada anak-anakku, jangan pernah jadi tukang bully alias bulliers, apalagi korbannya.

Jika tidak punya kata-kata yang baik untuk diucapkan, lebih baik tidak usah berkata-kata.



Karena ternyata, anak-anak itu lebih mudah bangkit daripada ketika dia sudah beranjak lebih dewasa. Akan sangat sulit untuk membuat lebih lunak dan fleksibel saat memendam luka.
Saat diri kita lebih kuat dan bisa bangkit dari keterpurukan, biasanya kita akan lebih mampu untuk memberi semangat dan mendorong orang lain yang sedang jatuh. Karena ada pengalaman dibelakang yang menopangnya.



Sebenarnya kekuatan untuk mensubtitusikan energi negatif kemarahan itu adalah dengan membuat rasa marah itu begitu mahal untuk bisa dilepaskan begitu saja, tetapi digantikan oleh kemurahan hati untuk berbagi kegembiraan yang bisa dengan mudah ditebarkan.
Dengan demikian , kita telah merubah pribadi kita bukan menjadi seorang yang pendendam, tetapi pendamai.


So, akhiri bullying dari sekarang.
Jangan biarkan rantai sakit hati dan dendam itu diteruskan ke sekeliling kita, terlebih ke anak kita.
Jika ini berkelanjutan, maka tidak akan pernah ada kedamaian dihati kita selamanya.
Belajar memaafkan dan mengembalikan kesakitan itu kepada sang pemberi hidup, karena Dialah satu-satunya pengurai beban umatNYA.

Alih-alih menceritakan keburukan orang lain, lebih baik kita ingat dan sebarkan kebaikannya saja.
Sebab keburukan itu amat mudah diingat tetapi sulit dilepaskan ketika sudah terlanjur melekat.

Tetaplah menjadi pribadi yang positif dan menular , jangan hanya Corona saja...hasyah!


23 comments for "AKU KORBAN BULLYING DI SEKOLAH"

  1. Berarti itu bully-annya karena iri ya Mbak. Tapi keren loh Mbak Archa bisa tahan sampai lulus.

    Dan itu jadi pengalaman mahal untuk bekal mengajarkan perilaku kepada anak-anak kita supaya mereka tidak jadi korban dan pelaku bully. Memaafkan sangat berat tapi lebih mulia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, syukurlah. BTW anakku juga sempat dpt bullyan disekolah yang sama.Untung simboknya pengalaman..kapan2 tak tulis deh..hihi

      Delete
  2. Sebenarnya bullying ini sudah ada sejak dulu ya, tapi untung komunikasi makin mudah jadi edukasi stop buliying bisa makin banyak

    ReplyDelete
  3. Bisa ngerasain beratnya hari-harimu waktu SMP mbak. Dibully teman sekelas dan kudu tiap hari ketemu mereka. Ugh, kalau ga kuat mental bisa sakit psikis sampai fisik tuh mbak. Bersyukur dirimu bisa melewati semua dan membuktikan pada dunia kalau kamu strong

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, badai sekolah sudah berlalu, sekarang badainya beda lagi. HArus bisa menaklukkan juga.We can do it!

      Delete
  4. Ya Allah sedih bacanya mbak, walau terkesan sepele ya kadang pelaku bilang ledekan itu candaan belaka kok baper, tapi lukanya terbawa sampai dewasa, aku pun pernah merasakan dan it hurts..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, untung sudah bisa kita taklukkan ya mak. Dirubah dalam bentuk prestasi. We won!

      Delete
  5. Aku kelas 6 SD Mbak jadi korban bully juga sama temen sekelas hampir sama sepertimu karena ada yang iri dan menyebarkan rumor tentangku waktu itu ya sedih banget anak-anak cewek bener-bener ga ada yang mau main sama aku mana aq anak pindahan untung nggak lama semoga kejadian begini tidak bertambah banyak ya amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, untung sudah terlewati ya mas. Kenapa dibully waktu SD?

      Delete
  6. Mereka iri sama mbak Archa dan pada akhirnya memilih jalan bully. Karena nggak tahu gimana bersaing dengan sehat sama mbak Archa. Dan traumatik buat yang dibully, bisa jadi yang pembully itu nggak merasa lo, pikirnya aah cuma begitu... Tapi keren mbak Archa bisa melewati masa2 terberat itu. Dan sekarang tambah keren dong ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin, ternyata untuk menjadi kuat itu butuh tempaan agar tidak menjadi cengeng. Kita sama2 hebat dong :)

      Delete
  7. Seiringnya waktu luka-luka itu sudah menghilang ya mb, semoga tidak ada lagi luka lain yang baru. Kalaupun ada pasti lebih siap dan mudah bangkit. You never alone mb Archa, Big Hug!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, akhirnya luka itu sembuh menjadi kekuatan. Peluk teletubbies style

      Delete
  8. karena mba Archa banyak kelebihan ya, jadi mereka nggak mau dibawah, baik dari prestasi atau yang lainnya. Mereka pengennya jadi jagoan. Kayaknya pendidikan keluarga mereka juga bermasalah jika sampai kayak gitu apalagi yang awalnya dari 5 orang itu

    ReplyDelete
  9. sy nagis bacanya :'(, tdk semua orang bisa membuka luka lama untuk berdamai karena lukanya membekas, traumatisnya tertinggal lama, sy salut buat mba archa mau membuka diri utnuk mengobati luka lama ini. peluk dr jauh buat mba archa :'). semoga tdk ada lg korban bullying lg

    ReplyDelete
  10. Sebenarnya dulu awal dibully karena apa tuh?

    Bullying dalam bentuk apapun memang selalu menorehkan luka hati. Menghentikan bullying juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Saat ini kita hanya bisa berusaha untuk memproteksi diri dari tindakan orang lain ya, termasuk bullying ini.

    ReplyDelete
  11. Bener juga ternyata, bullying ini bisa terbawa sampai dewasa bahkan jadi trauma. Itu lah kenapa aku dulu sampai ajak anakku ke psikolog, agar bisa menaikkan mood baiknya dan memberikan motivasi. Tiap hari aku kasih motivasi agar dia pede

    ReplyDelete
  12. bullying memang sangat membekas lama ya mbak dihati, saya juga gitu. tapi sekarang terasa menjadi sesuatu yang patut disyukuri karena kejadian itu justru membuat kita menjadi sosok yang lebih kuat dan tangguh.

    ReplyDelete
  13. Keponakanku kemarin seperti yg dialami mbak archa. Dia saking stressnya setiap mau berangkat ke sekolah selalu muntah-muntah. Akhirnya karena pihak masing2 ortu, sekolah dan anaknya ga menemukan jalan tengah, keponakanku terpaksa pindah sekolah demi psikisnya.

    Kalau menyimak kasusnya memang karena faktor irj dan teman-teman mereka ikut membully karena takut dibully juga.

    ReplyDelete
  14. Ya Allah, Mbak, medeni wong. Aku bacanya sampai miris. Zaman now njur kayak apa bullyingnya? Apalagi teknologi makin mengerikan.

    Jujur nih, Mbak, aku nggak pernah membayangkan, sosok Mbak Archa yang seperti ini, pernah punya kasus bullying yang amit-amit mengerikannya.

    ReplyDelete
  15. Memang dampak bullying itu bahaya banget, mbak. Sampai mbak bisa menuliskan ini dan ambil hikmah dari peristiwa yang nggak mengenakkan ini. Doaku, sukses terus mbak.

    ReplyDelete
  16. artikel yang bagus gan, sangat bermanfaat...

    Absensi Online
    WhatsApp Chatbot

    ReplyDelete

Post a comment

Silakan beri komentar ya, saya pasti balas asal NO SPAM dan NO SARA. Thank you...