PERAN IBU JAMAN NOW MENGHADAPI TANTANGAN JAMAN

Sunday, December 24, 2017


Tema : AKU DAN IBU, dalam menyambut hari Ibu ini digagas oleh mbak Chela , ibu guru yang super kreatif dan berdedikasi tinggi terhadap anak didiknya, serta mbak Noorma yang pinter nyanyi apalagi lagu dangdut....seerrr!
Berhubung aku ga punya ide untuk menuliskan tentang ibuku... (daripada baper saking buanyaknya...huhu), jadi aku mau nyeritain bagaimana pengalamanku sebagai ibu dalam membesarkan anak-anakku yang mungkin berbeda dengan era ibuku dulu.
Masih dalam rangka hari ibu yang sangat relevan dengan problematika ibu-ibu jaman now yang melahirkan generasi Z  yang sepertinya lebih menantang.
Bukan untuk menggurui karena sudah ada yang lebih guru yaitu mbak Chela dan Mbak Noorma, but just sharing as a ordinary mom.



Pada awal-awal pernikahanku,
hidupku terasa berat karena banyak ketidakpuasan dan penyesalan merajam dibenak dan pikiranku.
Dulu sebelum menikah, aku memang sempat bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang arsitektur sesuai backgroundku.
Pendapatan bulananku saat itu lumayan tinggi, jauh diatas calon suamiku yang saat itu masih berpacaran denganku. Tetapi tak lama setelah aku menikah, Tuhan memberikan titipan berharga didalam perutku , buah cinta kami berdua yang harus aku jaga baik-baik. Saat itu kebetulan suamiku bekerja diluarkota. Aku di Semarang dan dia di Bandung ,praktis sehari-hari aku harus menjalani kehidupanku sendiri, mengurus segalanya sendiri, bekerja sekaligus menyelesaikan pendidikan S2-ku yang menuntut konsentrasi penuh untuk riset demi terselesaikannya tesisku dibidang Arsitektur dengan perut yang semakin membuncit. Karena tidak tega aku pontang-panting sendirian, suamiku menyuruhku resign dari pekerjaanku yang memang menuntutku untuk naik turun tangga, mengukur bangunan, menyurvei lokasi, “blusukan” ke bangunan tua yang butuh untuk direnovasi, sekaligus lembur tiap malam membuat paper tugas kuliah dan bahan tesis.
 Dengan berat hati, kulepaskan pekerjaanku yang sudah mapan dan dipercaya oleh bosku sebagai arsitek, demi kesehatan bayi dalam kandunganku dan menurut pada suami. Tak bisa kupungkiri, awal-awal menjadi seorang yang “jobless” hari-hariku berlalu dengan kemarahan dan kesedihan. Marah karena yang biasanya “kelapayan” meninjau proyek, mengarahkan tukang-tukang bangunan, membuat desain bangunan, menjadi bengong tidak tahu apa yang harus kuperbuat, hidup serasa hampa tanpa kehadiran suami disisiku.
Sedih karena naiknya hormon estrogen dan progesteron selama kehamilan membuat moodku jadi buruk dan gampang menangis, terlebih jauh dari suami.
 Ditambah staminaku yang cenderung menurun, tekanan darahku pun menjadi sangat rendah. Kadar progesteronku pun lumayan tinggi sehingga mengalami mual yang sangat parah. Menginjak usia kehamilan ke 8 bulan, akhirnya aku perlahan-lahan mulai berdamai dengan keadaan.


Aku menghimpun aura positif didalam pikiranku , mengumpulkan petuah-petuah baik supaya anakku nanti tidak menjadi pribadi penggerutu seperti ibunya, memupuk pemahaman bahwa ini semua demi kebaikan anakku kelak. Dua Minggu setelah sidang tesis, anak pertamaku lahir kedunia. Seorang bayi perempuan nan cantik yang sempat membuat ayahnya menangis karena tidak bersuara ketika baru dilahirkan lewat persalinan normal akibat lehernya terlilit usus.
Nilai apgarnya 10, karena baru bisa menangis setelah 10 menit berlalu dengan upaya dokter yang memasukkan selang pernafasan ke mulutnya yang kecil ,menepuk-nepuk dada dan pantatnya yang tak bereaksi dan memasukkannya kedalam kotak inkubator.
Huffft,..akhirnya kepanikan itu pun sirna dengan tangisan melengking dari anakku.

“Terima kasih Tuhan , Engkau telah menghadirkan makhluk terindah untuk kami jaga dan didik sepanjang hidup kami.” 

 Aku bertekad, dengan pengorbananku untuk tidak bekerja dan menjadi full time ibu rumah tangga demi kebahagiaan keluarga dan mengoptimalkan tumbuh kembang anakku, maka aku harus bisa merawat dan mendidik anakku sebaik mungkin.
Biarlah pendapatan kami pas-pasan , yang hanya mengandalkan gaji suami sebagai pengawas bangunan, yang penting aku bisa dekat dengan anakku.
Saat itu gaji bulanan suamiku cuma 500 ribu rupiah saja, dan sebagian besar untuk susu anakku, karena saat umurnya 1 tahun, ASIku sudah sedikit suplainya sehingga harus beralih ke susu formula. Benar-benar ekstra ketat dalam mengatur keuangan, yang penting 1 yang kami pegang: “Anak kami harus sehat, diberi makan yang bergizi baik dan diajarkan pendidikan dan pengetahuan yang bermutu, dengan pendampingan ayah ibunya setiap waktu.” Syukur kepada Tuhan, anak perempuanku ini cepat sekali menyerap ilmu-ilmu yang bertebaran disekelilingnya.

Ketika kami ajak ke wahana permainan anak-anak kala berumur 2 tahun, Aurel (nama anakku) bisa menyebutkan ornamen-ornamen di dalam helikopter mainan yang dinaikinya secara detail.

Ceritanya begini: Sesampainya di rumah, Eyangnya Aurel bertanya kepadanya,

 “Aurel, tadi mainan apa ?”

“Tadi naik helikoptel ,Eyang, ...diatasnya ada baling-balingnya, didekat setil (setir) ada tombol walna ijo, telus ada kotak jejel 3 warna kuning, melah dan bilu, telus dipintunya ada tulisan helikoptel,...bla..bla..bla”, jelas Aurel dengan sangat rinci.

 Dan ketika aku periksa dikamera yang selalu aku bawa setiap kali jalan-jalan, dan aku cocokkan dengan pejelasan Aurel , semuanya tepat sekali.

Ternyata Aurel tidak hanya naik helikopter yang berputar-putar saja, tetapi dia juga mengamati dengan sungguh-sungguh dan merekam semuanya didalam ingatannya bak kamera video.Amazing!

Aku berusaha selalu ada ketika anakku ingin dibacakan buku cerita,dongeng atau ensiklopedi, karena pertanyaan-pertanyaan anakku tidak pernah selesai hingga menjelang tidur sekalipun, jadi aku harus selalu siap dengan jawaban-jawaban yang bisa dicerna oleh mereka.

Aku sisihkan penghasilan suamiku yang semakin meningkat untuk memasukkan anak-anakku ke kursus musik. Karena bagiku, musik adalah stimulan yang baik untuk menyeimbangkan antara emosi dan kecerdasan mereka.

Anak pertamaku, Aurel aku masukkan ke kursus orgen, dan anak keduaku yang kebetulan laki-laki , Enrico kumasukkan ke kursus drum.
Tidak penting lagi bagiku membeli benda-benda konsumtif seperti masa remajaku dulu, yang penting anak-anakku tercukupi kasih sayang dan perhatian serta pendidikan demi masa depannya.

Puji Syukur kepada Tuhan, kecerdasan Aurel tergolong diatas rata-rata. Dengan keceriwisan dan keaktifannya bertanya dan merespon lingkungannya, aku dihadapkan pada dilema sering berbeda pendapat dengan Aurel.

Anak sekecil itu telah mengujiku untuk bersabar menghadapi penolakan-penolakan ketika kusuruh. Seperti: “Aurel, beresin barang-barangmu ya selesai bermain”,
 dan jawaban dia,”Kenapa harus dibereskan? kenapa bukan ibu? Kenapa sekarang? Kenapa harus aku, dll, dsb penuh alasan.

Akhirnya aku kewalahan , sehingga harus menemui psikolog untuk membantu problematikaku dalam mendidik anak yang super aktif.
Aku direkomendasikan oleh psikolog UI bagian minat dan bakat gara-gara tak pernah cocok dengan anakku (ibu RH) untuk mengikutkan Aurel tes (semacam IQ /kepribadian, entah aku lupa namanya, untuk mengetahui tingkat intelegensianya) pada umur 3,5 th dan hasilnya dia bisa masuk ke kelas 2 SD.

Karena umur 2 tahun dia sudah bisa membaca koran dengan lancar.Tapi aku tidak tega,dan aku masukkan sekolah yg semestinya mulai dari TKA.
 Saat duduk di bangku TK besar,anak perempuanku ini menjadi juara bahasa Inggris sekota Semarang ,mengalahkan murid-murid Internasional School.
Saking seringnya dapat nilai 100 sampai lulus SD,hingga aku pun selalu bilang begini: "kok cuma 100,kok ga 101...?" (Bercanda).

 Kemampuan bahasa dan musikalitasnya diatas rata-rata. Dia cepat menyerap bahasa asing,terutama Mandarin dan Prancis serta Spanyol. Dan begitu juga dengan adiknya tidak berbeda jauh, berprestasi disekolahnya.
Tidak sia-sia pengorbananku untuk keluar dari pekerjaanku dan mencurahkan perhatian untuk anak-anakku walaupun pada awalnya sulit, karena semua kukerjakan sendiri tanpa Asisten Rumah Tangga, dari memasak, menyiapkan makanan untuk keluarga, mengantarkan les saat hujan deras maupun jam-jam tidur siang dihinggapi rasa malas-malasnya keluar rumah. 

Enrico beraksi menggebuk drum


Dulu, aku pernah mengalami masa-masa euforia dengan prestasi anakku, ketika anakku masih duduk dibangku sekolah dasar,apa-apa selalu kuukur dengan ranking.
 Aku beranggapan bahwa ranking adalah tolok ukur seberapa menonjolnya anakku diantara teman-temannya yang lain. Bisa jadi ini karena didikan orang tuaku sedari kecil yang mengharuskan anak-anaknya berprestasi dikelas bahkan disekolah,kalau bisa dikota.

Keluarga kecil tercintaku

Jadi,aku masih ingat. Suatu ketika saat saya kelas 6 SD ,caturwulan kedua kalau tidak salah. Aku menunduk lesu dan sedih,sambil membuka pagar rumah melihat bapak saya memundurkan mobilnya, tak kuasa memberitahukan bahwa ini rangking terburukku selama bersekolah, yaitu ranking 5.

Berhari-berhari aku menyesali diri. Mengurung didalam kamar,mengapa aku “sebodoh" ini.
Padahal bapak ibu tidak marah.Beliau hanya berpesan,"Cawu depan lebih baik lagi,ya.." 

Tetapi.... Sekarang pemikiranku sudah berubah. Aku tidak lagi mendasarkan diri anak-anakku harus ranking. Bahkan aku selalu menggoda mereka untuk tidak usah belajar terus,nonton TV atau main-main aja sama saudara-saudaranya.
Tiap makan,haha,... Aurel dan Enrico selalu pasang headset dikuping ,didepan mata ada buku WHY atau ensklopedi,sambil tangannya menyendok nasi.
Sudah aku larang,tetep aja gitu lagi gitu lagi sampe mulut pegel.
Ya sudahlah. ..hahaha. Kini aku malah suka kalo dia dapat nilai dibawah 80.
Aku mau mereka merasakan,orang itu juga bisa drop. Bisa jatuh. Bisa tidak siap dengan hal-hal yang membuat dia tidak selalu berada diatas angin. Aku justru ingin membuat dia paham bahwa hidup ini tidak untuk melulu jadi pemenang.
Jangan pernah menyematkan si A bodoh gara-gara ranking 30an.
Si B cerdas krn diatas saya rankingnya. "Nak,kamu tidak akan pernah menyangka bahwa mereka yang dulu gagal besok malah jadi bos atau diplomat sukses".
 Hidup justru terletak pada proses. Proses menerima kekalahan.
Proses berjuang dengan melewati jalan terjal dan berliku. Proses dicibir dan diremehkan.
Proses bahwa urutan itu bukan segalanya tapi hanya jembatan dalam mendewasakan diri.
 Dengan begitu mereka bisa merasakan menjadi orang yang pernah dibawah. Pernah kalah. Pernah tidak berhasil. Pernah gagal. Dsb.
Supaya bisa berempati dan bersimpati dengan org yang lbh lemah dalam hal apapun. Supaya memiliki pribadi yang rendah hati dan tidak merasa paling hebat. Karena aku yakin. Kehidupan mereka nantinya,berhasil atau gagal. Sukses atau sengsara. Bukan dari ranking yg mereka dapat sekarang. Tetapi dari SIKAP dan CARA MEREKA BERELASI DAN BERINTERAKSI dengan lingkungannya.

Penampilan Aurel bermain musik.


 Kini Aurel sudah kelas 8 di usia yang baru saja berulang tahun ke 13 th, sedangkan Enrico berumur 9 tahun dan sudah duduk dibangku kelas 4 SD.
Aku lebih takut kalau mereka tidak punya belas kasihan,tidak menghormati orang yang lebih tua,sombong dan tidak punya rasa tenggang rasa.
Inilah yang harus aku persiapkan sebagai ibu jaman now untuk anak-anakku agar menjadi generasi yang siap menerima tantangan karena akan banyak sekali  dihujani oleh gempuran masalah baik dari segi pergaulan, prestasi dan moral yang selalu penuh kompetisi.
Mempersiapkan generasi yang punya rasa empati yang tinggi, generasi yang tidak sombong tetapi rendah hati, generasi yang pantang menyerah tetapi siap menerima kekalahan itu yang menjadi fokusku sekarang ini.
Aku sering miris melihat anak-anak dan manusia sekitarku merasa paling diantara yang lain.
Paling pintar, paling memiliki jiwa kepemimpinan, paling disegani, paling sempurna, dan paling-paling yang lain tanpa mereka sadari.
Semoga aku bisa mendampingi dan mendidik anak-anakku menjadi anak yang baik dan bermanfaat untuk banyak orang.
Amin.

You Might Also Like

4 comments

  1. keren yaa mbak Archa ini.. ibu jaman now yang solid..

    oiya smulenya di VIP lagi dong mbakkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap mbak...ayo kita nyengnyong lagiii...aasyikkk

      Delete
  2. Aamiin, semoga doa ibu di seluruh dunia bagi anak2nya dikabulkan oleh Allah. Aurel berarti sepantaran ya dengan Vivi mbarepku, 13 th juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin...iya mbak. Tapi nembe wae umur 13 tahun.

      Delete

Silakan beri komentar ya, saya pasti balas asal NO SPAM dan NO SARA. Thank you...

COMMUNITIES

http://www.gandjelrel.com/