AKU KANGEN EYANG DAN MASAKAN-MASAKANNYA

Friday, June 09, 2017

Sebenarnya tema arisan Blogger Gandjel Rel kali ini cukup membuatku sendu.
Lhoh? Kok Bisa?

Tema yang dilempar oleh mbak Riska dan Alley ini cukup bagus, yaitu :Sesuatu yang paling kamu kangenin.

Tapiiihh, berhubung beberapa hari yang lalu aku nonton channel HBO ,judulnya : " The Lady in the Van", aku jadi kangeeenn banget sama Eyang Putriku yang baru saja dipanggil Tuhan Maret kemarin.huhuuu :'(

Pasalnya, pemeran Lady in the Van yang diperankan sangat baik oleh  Maggie Smith (gurunya Harry Potter) ini bener-bener ngingetin aku sama Eyangku.
Poster :The Lady in The Van
Poster :The Lady in The Van  (Source:http://www.pusatsinopsis.com)

Film  ini bercerita tentang persahabatan antara Alan Bennet dengan seorang tunawisma yang tinggal di jalanan rumahnya. Miss Sheperd adalah seorang gelandangan tunawisma yang tinggal di sebuah mobil Van. Ia sempat berpindah tempat lokasi tempat tinggal sampai akhirnya berhenti di jalanan rumah Alan Bennett.Pokoknya Film ini bener2 inspirasional. Two thumbs up!✌

Hal yang paling menampar aku adalah, di film ini aku jadi tersadar bahwa wanita seumuran Eyangku (80an tahun) memang punya sifat yang cenderung bawel, sering bikin kesel, dan pelupa serta cepat marah .
Inilah yang membuatku kurang bijak , sehingga menganggap Eyang selalu bikin anak dan cucunya ini jengkel.
Padahal kita yang sebenarnya tidak sabaran, bukan Eyangku.
Kita sebenarnya yang tidak bijak dan cepat marah, dalam menghadapi orang setua Eyangku.
Padahal Tuhan masih menganugerahi badan yang sehat, masih kuat berjalan jauh, pikiran masih prima, ingatan masih tajam, tetapi emosi malah gampang meledak-ledak hanya gara-gara Eyang minta didengarkan saat bercerita.
Eyang hanya minta anak cucunya lebih perhatian kalau Eyang ingin cerita sinetron yang baru ditontonnya.
Eyang hanya ingin tahu apakah tadi sudah makan atau belum, karena Eyang sudah pelupa, tapi kita yang masih sehat ini tidak sabar membalas pertanyaan-pertanyaan Eyang... hiks :(

Anakku Enrico demi melihat aku nangis sendirian didepan TV jadi terheran-heran, "Ibu nangis ya?kenapa sih buk?"
Dan aku hanya menjawab pendek, "Kangen Eyang Yut..." (sambil menyeka airmata yang sedari tadi meleleh tak terbendung).

Kisah sedih ini baru bisa kuceritakan sekarang, setelah kemarin-kemarin mataku sembab menangisi kepergian Eyangku yang tercinta.
Sekarang aku cukup kuat untuk mengungkapkannya didalam blogku ini.hhhh... #menghelanafasdalam2

Eyangku  yang cantik dan anggun
Eyangku  yang cantik dan anggun 

Iyah,...
Eyangku meninggal dunia dihari Selasa kemarin, tepatnya tanggal 14 Maret 2017 diusia hampir 84 tahun, pada tanggal 10 November 2017 besok, menyusul Eyang kakungku yang sudah dipanggil menghadap Tuhan tepat 30 tahun lalu.

Kata ibuku, Eyangku memiliki darah India dari moyangnya dan termasuk keluarga priyayi.
Eyang putriku berasal dari keluarga Muslim, tetapi beliau menjadi Katolik setelah menikah dengan Eyang kakungku yang berdarah Arab, dan kemudian dibabtis menjadi Maria Eisabeth Sri Soendari.

Nama yang sangat cantik , secantik paras Eyangku.



Kepergian itu sangat mendadak dan tiba-tiba sekali menghantam kami sekeluarga.
Eyang tidak gerah, beliau tidak sakit berat seperti biasa diderita manusia usia lanjut yang sering banyak menderita komplikasi penyakit.

Eyangku masih gesit, dan suka sekali memasak.
Aku masih ingat, ketika aku remaja, seringkali menginap di rumah Eyang, di Jl,Seteran , Semarang.
Rumah dipusat kota yang hanya sepelemparan batu ke Simpang Lima, Landmark kota Semarang.

Apapun masakan yang dimasak oleh Eyang, selalu enak pake banget, walaupun hanya tempe goreng sekalipun.
Sepertinya tangan Eyang adalah tangan ajaib yang mampu menyulap bahan sederhana menjadi istimewa.
Mungkin itulah yang membuat ibuku pintar memasak dan juga enak, walaupun tidak seenak masakan Eyang, dan akupun hobi memasak.

Saking sayangnya dengan cucu2nya yang berjumlah 7 orang dari 4 orang anak yang dilahirkannya, apapun yang kami ingini terutama dalam hal makanan, selalu dipenuhi oleh Eyang.

"Yang,...masakin baikut (babi sayur asin) ..Yang.." , rajukku setiap ke rumah Eyang.

Dan pasti besok paginya, Eyang telepon ibuku bahwa Baikutnya sudah matang , dan menanyakan kapan mau kesini...


Baikut sayur asin bikinan Eyang paling endez. (Source: Flickr)
Baikut sayur asin bikinan Eyang paling endez. (Source: Flickr)


"Masakan babi kecap Eyang, juaraaak!" ,itu koor cucu2 Eyang ketika asyik menyantap masakan Eyang satu itu. Slurrphhh! kaya rasa banget!

Ahhh...Eyangku begitu memanjakan kami....#mewek :(

Kadangkala, ketika perut kamipun sudah kenyang, ada gerobag  makanan apapun lewat didepan rumah Eyang, selalu ditawarkan ke kami... " Ono bakso, kae....mau??" , "Tongseng enak kae,...panggil..panggil sana,..."
Pokoknya menginap dirumah Eyang sehari , berat badanku nambah 2 kg, apapun makanan tersaji luber-luber didepan mata.

Memang tidak bisa dipungkiri, uang Eyang yang berasal dari tunjangan  pensiun Almarhum Eyang Kakung dengan pangkat terakhir Mayor  Tentara sebagian besar dihabiskan untuk makanan.
Puji Tuhan , putra-putra Eyang berkecukupan, jadi mereka membebaskan Eyang untuk membeli makanan sesukanya jika itu membuat Eyang senang.
Karena makanan itu juga buat cucu-cucu Eyang juga, ada kebahagiaan besar buat Eyang jika kami makmur-makmur. (Itulah mengapa kami mewarisi gen "sehat dalam body" dan susah kurus karena makanan yang berlimpah, walaupun tidak membuat kami semua gembrot dan "mbedah" alias mbleber tak karuan).


Aku sebagai cucu tertua, taneg banget alias puas merasakan kasih sayang Eyang lebih lama dari yang lain.
Di ranjang besi kuno eyang yang bercat hijau tosca, sambil ngipasi aku yang kegerahan karena dulu memang belum ada AC, Eyang selalu mendongeng cerita "Ayam Cindelaras", atau "Timun Emas" sambil terkantuk2.
Maafkan cucumu yang nakal ini Eyang, selalu meminta cerita itu diulang-ulang walaupun kantuk Eyang sudah menyerang.
Banyak sekali dongeng-dongeng Eyang yang tak mampu kuingat...tetapi suaranya masih terus membekas sampai sekarang... #huaaaa...nangis maning :'(

Pada malam minggu , 2 hari sebelum kepulangan Eyang, ibuku sempat menjenguk Eyang di rumah tanteku (adik ibu). Sejak rumah Seteran dijual sekitar 10 tahun lalu, Eyang memang tinggal bersama anak terakhirnya itu. Ibuku anak ke 3, dengan 2 kakak laki2.
Tapi aku tidak tahu kalau ibuku menjenguk Eyang.

Pada Selasa pagi, setelah bangun tidur,sekitar jam 6 pagi (2 hari setelahnya), aku menemui ibuku yang sedang mencuci piring di dapur.

"Buk, aku tadi malam kok ngimpi Eyang ya ,bu..."

"Ngimpi piye?", ibu berhenti sejenak sambil mematikan keran air. dan memandangku dengan serius.

"Jadi gini buk,...Eyang itu seolah-olah sudah tinggal di rumah ini (aku memperagakan lahan rumah dengan tanganku yang menelungkup), lha tapi kok Eyang minta aku mbikinin rumah disebelah rumah tadi, dibatasi rerumputan hijau menguning yang rimbun berbentuk L yang memisahkan rumah  Eyang tadi dengan lahan yang diminta Eyang...." "Terus aku bilang ke Eyang dalam mimpi itu, ..Yang, kan Eyang sudah biasa dirumah yang ini, kenapa mau pindah yang situ..?""Wes, gak popo..." jawab Eyang sambil nggambarin dikertas , bidang ukuran 1,5m x 1,6m sekitar itulah bu.
Lhah..lahan tadi bentuknya persegi panjang , kebelakang."
Terus aku masuk kedalam rumah tadi, sambil bilang ke Eyang, "Yang, rumahnya sudah luas, ruang keluarganya besar, ga usah disekat jadi 1,5 an lah Yang...nanti eyang tingkat 3 lantai aja, jadi bisa lihat pemandangan dibawah yang rumput-rumput tadi Yang...kan bagus viewnya"
"Yo Wes,,to,...". Eyang setuju.
Terus aku kebelakang , masuk ke rumah tadi bu, sampai dibagian belakang, ada sosok kok kaya PRT ,tapi jelek, item, dekil, kaya ngusir saya, sono,..sono..ga usah ikut-ikut..iki urusanku..!"


Ibu yang dari tadi diam mendengarkan, berkata : " Hihhh,..mimpimu kok medeni toh, memang kemarin minggu malam Ibu ke rumah tante, buat tilik Eyang, dan Eyang memang agak sesak nafas.
Tapi katanya besok mau ke dokter langganan Eyang aja,biar tenang.

(Saking baiknya Eyang, kalau ke dokter selalu minta sopir tante buat mampir dulu beliin Brownis terenak, atau ayam ingkung satu besek buat oleh-oleh sebelum priksa, hingga kadang bikin tante jengkel karena terlalu bikin repot sendiri, ...tapi Eyang seneng. Semua orang yang dekat beliau dianggap anak sendiri).

Pagi itu setelah bercerita sama ibuku, aku memang ada jadwal Facial disebuah salon kecantikan.
Aku kesana sekitar jam 10an, kok ya kebetulan bertemu dengan tanteku (adik ibuku) yang tinggal bersama Eyang.
Langsung kuceritain mimpiku semalam ke Tante Win , begitu aku memanggil beliau.
Tante Win jadi kepikiran, gara-gara ceritaku itu.
Perawatan menicure pedicure jadi ga tenang.
Setelah selesai urusan disalon, sekitar jam 1 siang, kami mampir ke restoran untuk makan siang.

Baru parkir mobil, tiba-tiba hpku berbunyi.
Ibuku mengabarkan bahwa akan ke Eyang alias rumah tante Win ,karena tadi ditelepon anak tante Win (sepupuku) kalau Eyang sesak nafas.

Kita makan sudah ga bisa konsentrasi.
Aku yang rencananya mau jemput anakku pulang sekolah, langsung telepon suami karena aku harus ke tempat Eyang sekarang.

Mobil beriritan , yang depan mobil Tanteku, dan hujan mengguyur sangat deras.
Sampai dirumah Tante Win, Eyang masih sadar, walaupun nafasnya tersengal-sengal.
Disana sudah ada ibu dan ayahku yang juga baru saja tiba.

"Kowe mrene karo sopo?" (kamu kesini sama siapa?)
"Sendiri, Yang..."
"Bojomu ndi? Anakmu sehat toh?" (huwaaa...aku nulis sekarang sambil nangis, didalam kesakitannya Eyang masih mengingat suami dan anak-anakku :( )
"Sehat ,Yang...Eyang ke dokter aja yuk..sekarang biar sembuh"

(Selama ini Eyang tidak pernah sakit, dan ini bikin aku shock melihat Eyang yang biasanya ceria, melucu, masak dengan gesit, terlihat pucat tetapi penuh perhatian).

Dibantu oleh menantu Tante Win, Dik Tasha, aku memakaikan diapers untuk Eyang,supaya ketika diRS tidak repot kebelakang.
Eyang sama sekali tidak pernah pake diapers, dan belum ngompolan.

"Eyang kalau pipis, pipis langsung aja ya Yang, ini kering kok , ga usah kuatir ,Yang" kataku.
Eyang agak risih sebenarnya, tetapi tidak berdaya.
Aku dibantu dik Tasya dan suaminya mendudukkan Eyang di kursi dorong dan membawa menaiki mobil.
Ada 3 Mobil beriringan membawa Eyang ke R.S Elisabeth. Mobil Tante, mobilku dan mobil Ayahku.

Eyang dibawa ke ruang UGD, untuk diobservasi.
Baru 15 menit kami sampai di RS, dik Tasya yang mengantar ke UGD (karena tidak boleh berbondong-bondong dalam ruangan) tergopoh-gopoh keluar mengabarkan agar kita membantu dalam doa, sambil bercucuran airmata.

Eyang dipacu jantung dengan semacam alat respirator berbentuk semacam balon yang diremas-remas oleh perawat.
Beberapa kali tim medis dan dokter menekan dada Eyang berulangkali supaya denyut jantungnya stabil, tetapi sinyal pada monitor timbul tenggelam.
Aku benar-benar ga tega.
Eyangku yang kukasihi "disiksa" sedemikian rupa.
Badannya berguncang-guncang  karena tekanan yang keras dari tim medis.

Ibuku dan Tante sudah menangis sesenggukan diluar sambil berdoa dan sesekali memanggil-manggil, "Ibuuuukkkk...Ibuuukk." dengan suara bergetar dan tertahan, menahan kesedihan yang teramat sangat.

Sempat tante menyalahkanku, kenapa tadi malam aku harus bermimpi seperti itu.

Akupun tidak mengerti karena tanda-tanda spiritual itu seringkali hingga pada diriku sebelum waktunya.

Sambil bercucuran airmata , aku menenangkan ibu dan tanteku serta adik iparku. "Sudah ikhlaskan saja...ya...please,...kasian kalau Eyang harus berjuang lagi..."

Aku tak tega untuk mengatakan, "kalau Eyang masih hidup." Dilema dan berat sekali untuk mengatakan pada anak-anak dari seorang ibu yang sedang menjemput ajal. Sangaaat berat.

Akhirnya setengah jam dari kedatangan kami ke RS, Eyang dinyatakan meninggal dunia.
Betapa sedihnya kami semua.
Dalam mobil yang membawa kami kerumah masing-masing, airmata tak henti-hentinya meleleh.



Eyang meninggal sangat baik sekali.
Dalam ketenangan, ditengah anak cucunya, tanpa sakit yang berlebihan karena rekomendasi dari dokter untuk memasukkan ke ICU setelah di UGD pun belum sempat terlaksana.
Eyang tidak pernah merepotkan kami hingga jelang wafatnya, justru kamilah yang sering merepotkan Eyang.
Eyang meninggal dalam keadaan sangat cantik karena belum ada satupun jarum yang ditusukkan ke Eyang, baik itu obat maupun selang infus.
Terbayang pasti Eyang akan lebam-lebam jika sudah dimasuki berbagai jenis larutan obat.

Kini Eyangku telah damai bersama Bapa disurga.
Eyang yang selalu betah berdoa hingga berjam-jam dari jam 2 pagi hingga jam 5 pagi.
Eyang yang selalu mengingatkan kami untuk beribadah dan mengucap syukur.
Eyang yang selalu wangi, lucu, dan penuh gurauan.
Bahkan saat terakhir aku menemani Eyang "dhahar", beliau sempat bercanda dengan cueknya, " Kowe saiki kok koyo babi...", dan aku ngakak sengakak-ngakaknya sambil makan.
Momen spontan itu yang selalu aku kangenin bersama Eyang.
Eyang yang meninggalkan kesan mendalam untuk orang-orang disekitarnya.
Bahkan karena memang Eyang tidak sedang dalam keadaan sakit, keesokan harinya ketika Amang2 Tukang sayur langganan Eyang, tukang pijet dan "wong cilik" yang selalu diperhatikan Eyang, singgah ke rumah tante seperti biasanya, sontak menangisi kepergian beliau karena baru tahu  kalau Eyang sudah tidak ada secepat ini, padahal baru kemarin mengobrol,

Dan seperti yang kuimpikan sebelumnya.
Makam Eyang posisinya letter L dari gerbang masuk, dan berada dilevel ke 3, sesuai dengan makam yang masih tersedia, padahal aku tidak pernah tahu dimana pastinya Eyang akan dimakamkan.

Makam Eyang
Makam Eyang


Beristirahatlah dengan damai, Eyang.
Doakanlah kami anak cucumu didunia ini agar selalu dijalan yang terberkati. Amin.



Dedicated to my lovely Grandma,
Eyang Soendari.❤❤











You Might Also Like

5 comments

  1. kkehilangan eyang yang sangat disayangi.. aku bacanya ikutan mewek mbak..semoga eyang tenang dan damai di sisi Tuhan ya mbak...aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Sangat kucintai..dan aku kangen banget. Mksh ya sudah singgah...

      Delete
  2. Emang ya mbak aku juga suka kangen banget ama emah almarhumah nenekku, kasih sayangnya kurasakan pe sekarang, semoga almarhum nenek kita mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, dan kelak bisa berkumpul lagi dengan kita di surga 😇

    ReplyDelete
  3. Huhuhu, jadi ikutan sedih.

    Yang terbaik buat Eyang dan semoga mbak Archa bisa semakin ikhlas.
    Amin.

    ReplyDelete
  4. Jd sedih mbacanya mbak teringat eyangku padahal aku cuma menangin berapa tahun tok. Dua eyang meninggal pas aku msh SD jd ga banyak kenangan :(

    ReplyDelete

Silakan beri komentar ya, saya pasti balas asal NO SPAM dan NO SARA. Thank you...